Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Penaklukan 'Iraq dan daerah Timur (Periode kedua)

Posted by


Tarikh Al-Khulafaaur Raasyidiin (ke-40)
Khalifah 'Umar bin Al-Khaththab (7)
13. Penaklukan 'Iraq dan daerah Timur (Periode kedua)
Di dalam kitab tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan :

وَقَدْ قَدَّمْنَا اَنَّ الْمُثَنَّى بْنَ حَارِثَةَ لَمَّا سَارَ خَالِدٌ مِنَ اْلعِرَاقِ بِمَنْ صَحِبَهُ اِلَى الشَّامِ (وَقَدْ قِيْلَ اِنَّهُ سَارَ بِتِسْعَةِ آلَافٍ، وَقِيْلَ بِثَلَاثَةِ آلَافٍ، وَقِيْلَ بِسَبْعِمِائَةٍ، وَقِيْلَ بِاَقَلَّ اِلَّا اَنَّهُمْ صَنَادِيْدُ جَيْشِ اْلعِرَاقِ)، فَاَقَامَ الْمُثَنَّى بِمَنْ بَقِيَ، فَاسْتَقَلَّ عَدَدَهُمْ، وَخَافَ مِنْ سَطْوَةِ اْلفُرْسِ لَوْلَا اشْتِغَالُهُمْ بِتَبْدِيْلِ مُلُوْكِهِمْ وَمَلِكَاتِهِمْ، وَاسْتَبْطَأَ الْمُثَنَّى خَبَرَ الصّدّيْقِ، فَسَارَ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَوَجَدَ الصّدّيْقَ فِي السّيَاقِ، فَاَخْبَرَهُ بِاَمْرِ اْلعِرَاقِ، فَاَوْصَى الصّدّيْقُ عُمَرَ اَنْ يَنْدِبَ النَّاسَ لِقِتَالِ اَهْلِ اْلعِرَاقِ. البداية و النهاية 7: 29

Telah kami paparkan bahwa Al-Mutsanna bin Haritsah setelah ditinggalkan Khalid dan para shahabatnya dari 'Iraq ke Syam, (ada yang mengatakan ia bersama 9.000 pasukan, ada yang mengatakan 3.000 pasukan, ada yang mengatakan 700 pasukan, bahkan ada yang mengatakan kurang dari itu, tetapi mereka itu para pimpinan pasukan 'Iraq). Al-Mutsanna tetap bertahan di situ bersama pasukannya yang tersisa. Kemudian Al-Mutsanna merasa pasukannya tinggal sedikit, dan ia khawatir dari sergapan pasukan Persia seandainya kerajaan Persia tidak disibukkan dengan pergantian raja dan ratu mereka. Dan Al-Mutsanna terlambat mendapatkan berita tentang (sakitnya) Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu ia berangkat ke Madinah untuk menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Setelah tiba di Madinah, ia mendapati Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam keadaan sakit keras, lalu ia melaporkan tentang keadaan di 'Iraq. Kemudian Abu Bakar menyarankan kepada 'Umar supaya memobilisasi pasukan untuk memerangi 'Iraq. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 7, hal. 29]

14. Abu Ubaid Ats-Tsaqafiy sebagai panglima perang di 'Iraq.
Di dalam kitab tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan :

فَلَمَّا مَاتَ الصّدّيْقُ وَدُفِنَ لَيْلَةَ الثُّلَاثَاءِ اَصْبَحَ عُمَرُ فَنَدَبَ النَّاسَ وَحَثَّهُمْ عَلَى قِتَالِ اَهْلِ اْلعِرَاقِ، وَحَرَّضَهُمْ وَرَغَّبَهُمْ فِي الثَّوَابِ عَلَى ذ?لِكَ، فَلَمْ يَقُمْ اَحَدٌ، لِاَنَّ النَّاسَ كَانُوْا يَكْرَهُوْنَ قِتَالَ اْلفُرْسِ لِقُوَّةِ سَطْوَتِهِمْ وِشِدَّةِ قِتَالِهِمْ. ثُمَّ نَدَبَهُمْ فِي اْليَوْمِ الثَّانِيْ وَالثَّالِثِ فَلَمْ يَقُمْ اَحَدٌ، وَتَكَلَّمَ الْمُثَنَّى بْنُ حَارِثَةَ فَاَحْسَنَ وَاَخْبَرَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللهُ تَعَالَى عَلَى يَدِ خَالِدٍ مِنْ مُعْظَمِ اَرْضِ الْعِرَاقِ وَمَالَهُمْ هُنَالِكَ مِنَ اْلاَمْوَالِ وَاْلاَمْلَاكِ وَاْلاَمْتِعَةِ وَالزَّادِ، فَلَمْ يَقْمُ اَحَدٌ فِي اْليَوْمِ الثَّالِثِ. فَلَمَّا كَانَ اْليَوْمُ الرَّابِعُ، كَانَ اَوَّلَ مَنِ انْتَدَبَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ اَبُو عُبَيْدِ بْنُ مَسْعُوْدٍ اَلثَّقَفِيُّ. ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ فِي اْلاِجَابَةِ، اَمَرَ عُمَرُ طَائِفَةً مِنْ اَهْلِ الْمَدِيْنَةِ، وَاَمَّرَ عَلَى الْجَمِيْعِ اَبَا عُبَيْدٍ ه?ذَا وَلَمْ يَكُنْ صَحَابِيًّا. فَقِيْلَ لِعُمَرَ: هَلَّا اَمَّرْتَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا مِنَ الصَّحَابَةِ؟ فَقَالَ: اِنَّمَا اُؤَمّرُ اَوَّلَ مَنِ اسْتَجَابَ، اِنَّكُمْ اِنَّمَا سَبَقْتُمُ النَّاسَ بِنُصْرَةِ ه?ذَا الدّيْنِ، وَاِنَّ ه?ذَا هُوَ الَّذِيْ اِسْتَجَابَ قَبْلَكُمْ. ثُمَّ دَعَاهُ فَوَصَّاهُ فِي خَاصَّةٍ نَفْسَهُ بَتَقْوَى اللهِ وَبِمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرًا، وَاَمَرَهُ اَنْ يَسْتَشِيْرَ اَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ ص وَاَنْ يَسْتَشِيْرَ سَلِيْطَ بْنَ قَيْسٍ، فَاِنَّهُ رَجُلٌ بَاشِرُ الْحُرُوْبِ.
Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat dan diquburkan pada malam Selasa, (tepatnya tanggal 22 bulan Jumadil Akhir tahun 13 H), 'Umar bin Khaththab menjadi penggantinya. Kemudian Khalifah 'Umar memberikan motivasi langsung kepada kaum muslimin untuk memerangi 'Iraq dan menggembirakan mereka dengan besarnya pahala yang akan mereka dapatkan atas penaklukan ini. Namun tidak ada seorangpun yang berdiri menyambut seruannya. Mereka tidak ingin memerangi bangsa Persia disebabkan kekuatan mereka yang begitu dahsyatnya dan betapa sulitnya untuk dapat menaklukkan mereka.
Pada hari kedua dan ketiga, Khalifah 'Umar kembali memotivasi kaum muslimin untuk berperang menaklukkan Persia, namun tidak seorangpun dari mereka yang bersemangat menyambut seruannya. Lalu Al-Mutsanna bin Haritsah turut berbicara dengan baik, dan menjelaskan kepada mereka bagaimana Allah Ta'aalaa telah menaklukkan sebagian besar wilayah 'Iraq di bawah komando Khalid, dan betapa banyaknya harta, barang-barang dan kekayaan yang mereka miliki, namun tidak seorangpun yang menyambut seruan ini sampai hari ketiga.
Pada hari ke empat, orang yang pertama kali menyambut seruan Jihad ini adalah Abu 'Ubaid bin Mas'ud Ats-Tsaqafiy, setelah itu mulailah satu persatu berturut-turut orang-orang mendaftarkan diri sebagai pasukan. Sebagian dari warga Madinah ada yang diwajibkan oleh Khalifah 'Umar untuk ikut dalam penaklukan ini, dan Khalifah 'Umar mengangkat Abu 'Ubaid sebagai panglima mereka, padahal dia tidak termasuk sahabat Nabi. Kemudian ada yang bertanya tentang kebijakan Khalifah 'Umar ini, "Mengapa tidak engkau tunjuk sebagai pimpinan seorang dari Sahabat Nabi?" Maka Umar menjawab, "Sesungguhnya aku hanya memilih sebagai pemimpin pasukan, orang yang pertama kali menyambut seruan jihadku, sesungguhnya kalian telah mendahului orang-orang dalam menolong agama ini, tetapi dialah Abu 'Ubaid yang telah mendahului kalian menyambut seruanku untuk berjihad".
Kemudian Khalifah 'Umar memanggilnya, lalu memberikan pesan khusus kepada Abu 'Ubaid agar selalu bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik kepada kaum muslimin. Khalifah 'Umar menyarankannya agar selalu bermusyawarah dengan para sahabat Rasulullah SAW dan supaya meminta pertimbangan kepada Salith bin Qois yang telah punya banyak pengalaman dalam berperang.

فَسَارَ الْمُسْلِمُوْنَ اِلَى اَرْضِ الْعِرَاقِ وَهُمْ سَبْعَةُ آلَافِ رَجُلٍ، وَكَتَبَ عُمَرُ اِلَى اَبِي عُبَيْدَةَ اَنْ يُرْسِلَ مَنْ كَانَ بِالْعِرَاقِ مِمَّنْ قَدِمَ مَعَ خَالِدٍ اِلَى اْلعِرَاقِ، فَجَهَّزَ عَشْرَةَ آلَافٍ عَلَيْهِمْ هَاشِمُ ابْنُ عُتْبَةَ، وَاَرْسَلَ عُمَرُ جَرِيْرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ اْلبَجَلِيَّ فِي اَرْبَعَةِ آلَافٍ اِلَى اْلعِرَاقِ، فَقَدِمَ اْلكُوْفَةَ.
Pasukan muslimin mulai bergerak menuju Negeri 'Iraq dengan kekuatan pasukan sebanyak 7000 orang. Dan Khalifah 'Umar menulis surat kepada Abu 'Ubaidah agar mengirimkan bala bantuan yang telah ada di 'Iraq yang dahulu datang bersama Khalid. Kemudian Abu 'Ubaidah mempersiapkan sepuluh ribu personil pasukan yang dipimpin oleh Hasyim bin 'Utbah. Khalifah 'Umar juga mengirim pasukan Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy menuju 'Iraq dengan kekuatan sebanyak 4000 pasukan, kemudian mereka segera berangkat ke Kufah.

فَلَمَّا وَصَلَ النَّاسُ اِلَى اْلعِرَاقِ وَجَدُوا اْلفُرْسَ مُضْطَرّبِيْنَ فِي مُلْكِهِمْ، وَآخِرُ مَا اسْتُقِرَّ عَلَيْهِ اَمْرُهُمْ اَنْ مَلَّكُوْا عَلَيْهِمْ بُوْرَانَ بِنْتَ كِسْرَى، بَعْدَمَا قَتَلُوا الَّتِى كَانَتْ قَبْلَهَا آزَرْمَيْدَخَتْ، وَفَوَّضَتْ بُوْرَانُ اَمْرَ الْمُلْكِ عَشْرَ سِنِيْنَ اِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ يُقَالُ لَهُ رُسْتَمُ بْنُ فَرَخْزَاذْ عَلَى اَنْ يَقُوْمَ بِاَمْرِ الْحَرْبِ، ثُمَّ يَصِيْرُ الْمُلْكُ اِلَى آلِ كِسْرَى. فَقَبِلَ ذ?لِكَ، وَكَانَ رُسْتَمُ ه?ذَا مُنَجّمًا يَعْرِفُ النُّجُوْمَ وَعِلْمَهَا جَيّدًا. فَقِيْلَ لَهُ: مَا حَمَلَكَ عَلَى ه?ذَا، يَعْنُوْنَ وَاَنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ ه?ذَا اْلاَمْرَ لَا يُتِمُّ لَكَ؟ فَقَالَ: الطَّمَعُ وَحُبُّ الشَّرَفِ. البداية و النهاية 7: 29
Ketika pasukan muslimin tiba di 'Iraq, mereka mendapati suasana politik di kerajaan itu dalam keadaan goncang, situasi terakhir mereka mengangkat Buuraan puteri Kisra, sebagai raja mereka setelah menggulingkan bahkan membunuh raja sebelumnya yaitu Aazar Maidakhat. Sejak itu Buuraan menyerahkan urusan pemerintahan secara total kepada Rustam bin Farakhzadz selama sepuluh tahun ke depan, untuk mengurusi peperangan, kemudian setelah sepuluh tahun, maka kerajaan kembali dipegang oleh keluarga Kisra. Kemudian Rustam bersedia menerima perjanjian itu. Rustam adalah seorang ahli nujum (perbintangan) ia mengetahui ilmu perbintangan dengan baik. Ketika ditanyakan kepadanya, "Mengapa engkau bersedia menerima jabatan ini padahal engkau tahu bahwa jabatan ini tidak pantas untukmu ?. Maka dia menjawab, "Karena Tamak dan cinta jabatan. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 7, hal. 29]

15. Perang Namaariq.
Di dalam kitab tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan :

بَعَثَ رُسْتَمُ اَمِيْرًا يُقَالُ لَهُ جَابَانُ وَعَلَى مُجَنّبَتَيْهِ رَجُلَانِ يُقَالُ لِاَحَدِهِمَا حَشْنَسْ مَاهْ وَيُقَالُ لِلْآخَرِ مَرْدَانْشَاهْ وَهُوَ خَصِيُّ اَمِيْرٍ حَاجِبُ اْلفُرْسِ. فَالْتَقَوْا مَعَ اَبِي عُبَيْدٍ بِمَكَانٍ يُقَالُ لَهُ النَّمَارِقُ، بَيْنَ الْحِيْرَةِ وَالْقَادِسِيَّةِ، وَعَلَى الْخَيْلِ الْمُثَنَّى بْنُ حَارِثَةَ، وَعَلَى الْمَيْسَرَةِ عَمْرُو بْنُ الْهَيْثَمِ، فَاقْتَتَلُوْا هُنَالِكَ قِتَالًا شَدِيْدًا، وَهَزَمَ اللهُ الْفُرْسَ، وَاُسِرَ جَابَانُ وَمَرْدَانْشَاهْ. فَاَمَّا مَرْدَانْشَاهْ فَاِنَّهُ قَتَلَهُ الَّذِي اَسَرَهُ. وَاَمَّا جَابَانُ فَاِنَّهُ خَدَعَ الَّذِيْ اَسَرَهُ حَتَّى اَطْلَقَهُ، فَاَمْسَكَهُ الْمُسْلِمُوْنَ وَ اَبَوْا اَنْ يُطْلِقُوْهُ. وَقَالُوْا: اِنَّ ه?ذَا هُوَ اْلاَمِيْرُ، وَجَاؤُا بِهِ اِلَى اَبِي عُبَيْدٍ. فَقَالُوْا: اُقْتُلْهُ، فَاِنَّهُ اْلاَمِيْرُ. فَقَالَ: وَ اِنْ كَانَ اْلاَمِيْرُ فَاِنّي لَا اَقْتُلُهُ وَقَدْ اَمَّنَهُ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. البداية و النهاية 7: 30
Rustam mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan seorang panglima yang bernama Jaabaan, di sayap kiri dan sayap kanan pasukan dipimpin oleh Hasynas Mah (Jasynas Mah) dan Mardansyah, ia sebagai wakil panglima, dan sebelumnya adalah pengawal istana Persia. Akhirnya mereka bertemu dengan Abu 'Ubaid di suatu tempat yang bernama An-Namaariq yang terletak antara Hirah dan Qadisiyah. Ketika itu pasukan berkuda tentara Islam dipimpin oleh Al-Mutsanna bin Haritsah, sayap kiri pasukan dipimpin oleh 'Amr bin Al-Haitsam. Akhirnya terjadilah pertempuran yang dahsyat antara dua pasukan. Dan akhirnya Allah mengalahkan tentara Persia, bahkan Jaabaan dan Mardansyah keduanya ditawan. Adapun Mardansyah akhirnya dibunuh oleh orang yang menawannya, sedangkan Jaabaan berhasil mengelabui orang yang menawannya sehingga ia dilepaskan. Namun kaum muslimin segera menangkapnya dan mereka tidak mau melepaskannya. Mereka berkata, "Yang kita tawan ini adalah panglima mereka!" Kemudian kaum muslimin membawanya ke hadapan Abu 'Ubaid. Mereka berkata, "Bunuhlah orang ini, dialah panglima pasukan Persia." Abu 'Ubaid menjawab, "Walaupun dia panglima mereka, namun aku tidak akan membunuhnya, karena seorang tentara muslim telah memberikan jaminan keamanan kepadanya". [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 7, hal. 30]

16. Perang Kaskar.
Di dalam kitab tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan :

ثُمَّ رَكِبَ اَبُوْ عُبَيْدٍ فِي آثَارِ مَنِ انْهَزَمَ مِنْهُمْ، وَقَدْ لَجَاؤُا اِلَى مَدِيْنَةِ كَسْكَرَ الَّتِي لِابْنِ خَالَةِ كِسْرَى وَاسْمُهُ نَرْسِي، فَوَازَرَهُمْ نَرْسِي عَلَى قِتَالِ اَبِي عُبَيْدٍ، فَقَهَرَهُمْ اَبُو عُبَيْدٍ وَغَنِمَ مِنْهُمْ شَيْئًا كَثِيْرًا وَاَطْعِمَاتٍ كَثِيْرَةً جِدًّا. وَ لِلّ?هِ الْحَمْدُ. وَبَعَثَ بِخُمُسِ مَا غَنِمَ مِنَ الْمَالِ وَالطَّعَامِ اِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِالْمَدِيْنَةِ. البداية و النهاية 7: 30
Kemudian Abu 'Ubaid mengejar pasukan Persia yang melarikan diri dan bersembunyi di dalam kota Kaskar milik putra dari bibi Kisra yang bernama Narsi. Kemudian Narsi mengajak mereka untuk kembali memerangi Abu 'Ubaid. Akhirnya mereka bertempur dengan pasukan Abu 'Ubaid. Dan pasukan muslimin kembali mengalahkan mereka serta berhasil mendapatkan harta rampasan perang yang banyak dan makanan yang berlimpah. Bagi Allah segala puji. Kemudian Abu 'Ubaid mengirimkan seperlima harta rampasan perang dan makanan kepada Khalifah 'Umar bin Al-Khaththab di Madinah. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 7, hal. 30]

17, Perang Baarusma.
Di dalam kitab tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan :

فَالْتَقَوْا بِمَكَانٍ بَيْنَ كَسْكَرَ وَالسَّفَاطِيَةِ، وَعَلَى مَيْمَنَةِ نَرْسِي وَ مَيْسَرَتِهِ اِبْنَا خَالِهِ بِنْدَوَيْهِ وَبِيْرَوَيْهِ اَوْلَادُ نِظَامٍ، وَكَانَ رُسْتَمُ قَدْ جَهَّزَ الْجُيُوْشَ مَعَ الْجَالِيْنُوْسِ. فَلَمَّا بَلَغَ اَبُو عُبَيْدٍ ذ?لِكَ اَعْجَلَ نَرْسِيَ بِالْقِتَالِ قَبْلَ وُصُوْلِهِمْ. فَاقْتَتَلُوْا قِتَالًا شَدِيْدًا، فَانْهَزَمَتِ الْفُرْسُ وَهَرَبَ نَرْسِي وَالْجَالِيْنُوْسُ اِلَى الْمَدَائِنِ بَعْدَ وَقْعَةٍ جَرَتْ مِنْ اَبِي عُبَيْدٍ مَعَ الْجَالِيْنُوْسِ بِمَكَانٍ يُقَالُ لَهُ بَارُوسْمَا. فَبَعَثَ اَبُوْ عُبَيْدٍ الْمُثَنَّى بْنَ حاَرثِةَ وَسَرَايَا اُخَرَ اِلَى مَتَاخِمِ تِلْكَ النَّاحِيَةِ، كَنَهْرِ جُوْرٍ وَنَحْوِهَا. فَفَتَحَهَا صُلْحًا وَقَهْرًا، وَضَرَبُوا الْجِزْيَةَ وَالْخَرَاجَ وَغَنِمُوا اْلاَمْوَالَ الْجَزِيْلَةَ. وَ لِلّ?هِ الْحَمْدُ وَ الْمُنَّةُ. وَكَسَرُوْا الْجَالِيْنُوْسَ الَّذِيْ جَاءَ لِنُصْرَةِ جَابَانَ، وَغَنِمُوْا جَيْشَهُ وَاَمْوَالَهُ وَكَرَّ هَارِبًا اِلَى قَوْمِهِ حَقِيْرًا ذَلِيْلًا. البداية و النهاية 7: 31
Setelah itu mereka bertemu di suatu tempat yang terletak antara Kaskar dan Safaathiyah yang disebut Baarusma. Di sayap kanan dan kiri Narsi dipimpin oleh dua anak pamannya Bindawaih dan Birawaih, anaknya Nidham, sedangkan Rustam telah mempersiapkan pasukan tambahan yang dipimpin oleh Jalinus. Setelah Abu 'Ubaid mengetahui yang demikian itu, beliau segera menyerang Narsi terlebih dahulu sebelum pasukan bantuan dari Rustam tiba ke tempat itu. Maka terjadilah peperangan yang dahsyat antara kedua pasukan. Akhirnya tentara Persia berhasil dikalahkan. Adapun Narsi dan Jalinus melarikan diri ke Al-Madaain ketika berlangsung pertempuran antara Abu 'Ubaid dengan Jalinus di suatu tempat yang bernama Baarusma.
Kemudian Abu 'Ubaid segera mengirim Al-Mutsanna bin Haritsah dan kelompok-kelompok pasukan untuk menaklukkan daerah-daerah yang berada disekitar tempat itu, seperti daerah sungai Jur dan lain-lainnya. Kemudian Al-Mutsanna berhasil menaklukkan seluruh daerah itu, baik secara damai maupun dengan perang. Kemudian mereka diwajibkan membayar jizyah serta kharaj (hasil dari bumi mereka). Pada waktu itu kaum muslimin mendapatkan harta rampasan perang yang sangat banyak. Segala puji dan kekuatan milik Allah. Mereka juga dapat mengalahkan Jalinus yang datang untuk membantu Jaabaan. Kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan perang yang mereka bawa. Sedangkan Jalinus berhasil melarikan diri kembali kepada kaumya dalam keadaan hina dina. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 7, hal. 31]
Bersambung ...........


Demo Blog NJW V2 Updated at: 22:48

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Pertanyaan OOT silakan di Halaman Ruang Konsultasi. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx