Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Apa arti kata SUNNAH karena kita sering mendengar : Sunnah Nabi, Shalat Sunnah, dan Sunnatullah,

Posted by


Assalaamu ‘alaikum ustadz, apa arti kata SUNNAH, karena kita sering mendengar : Sunnah Nabi, Shalat Sunnah, dan Sunnatullah, ustadz ? (Rozak, Pati)


Jawab :
Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaahi wa barakaatuh.



Arti Sunnah menurut bahasa
Kata Sunnah menurut lughat (bahasa) berarti sebagai berikut :
1. Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku.
2. Cara yang diadakan.
3. Jalan yang telah dijalani.
4. Keterangan.

Dengan singkat dapatlah dijelaskan sebagai berikut :

a) Sunnah yang berarti undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku,
seperti firman Allah di dalam Al-Qur’an yang bunyinya : “(Yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu”. [QS. Al-Israa’ : 77] “Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah”. [QS. Al-Ahzab : 62]
Dengan dua ayat ini jelaslah bahwa kata “sunnah” dalam dua ayat ini berarti peraturan atau undang-undang yang tetap berlaku.

b) Sunnah yang berarti cara yang diadakan,
seperti sabda Nabi SAW : “Barangsiapa yang mengadakan suatu cara yang baik di dalam Islam lalu (cara itu) diikuti orang sesudahnya, maka ditulis pahala baginya sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tidak kurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengadakan suatu cara yang buruk di dalam Islam lalu (cara itu) diikuti orang sesudahnya, maka ditulis baginya sebanyak dosa orang-orang yang mengikutinya, dengan tidak kurang sedikitpun dari dosa mereka”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2059]

c. Sunnah yang berarti jalan atau perjalanan yang telah dijalani,
Seperti sabda Nabi SAW. “Nikah (kawin) itu dari sunnahku, maka barangsiapa yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah ia dari golonganku”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 592]
Sebagaimana diketahui bahwa Nabi SAW itu bukan orang yang pertama kali menjalani nikah, melainkan hanya mengikuti jalan yang pernah dijalani oleh para Nabi yang datang sebelumnya. Dan seperti sabda Nabi SAW : “Manusia yang paling dibenci Allah ada tiga golongan, yaitu : Yang melakukan kekufuran di tanah haram, dan menghendaki perjalanan jahiliyah di dalam (agama) Islam, dan yang menuntut darah seseorang dengan tidak haq (benar) untuk ditumpahkan darahnya”. [HR. Bukhari juz8, hal. 39]
Dengan dua hadits ini jelaslah kata “sunnah” dalam dua hadits ini berarti jalan atau perjalanan yang telah dijalani oleh orang yang datang terlebih dahulu.

d. Sunnah yang berarti keterangan,
Seperti perkataan ulama lughat :
“Sannalloohunahkaamahu linnaas” (Allah telah menerangkan hukum hukumnya kepada manusia.)
“Sannarrojulul amro” (Orang lelaki itu telah menerangkan satu urusan).
Demikianlah diantara arti “sunnah” menurut lughat (bahasa).
Arti Sunnah menurut istilah syara’
Para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqih memberikan ta’rif kata “Sunnah”, demikian :
“Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya” .
Jadi sunnah Nabi itu ada 4 macam :
1. Sunnah Qauliyyah (sunnah yang berupa perkataan Nabi SAW).
2. Sunnah Fi’liyyah (sunnah yang berupa perbuatan Nabi SAW).
3. Sunnah Taqririyyah (sunnah yang berupa pengakuan Nabi SAW).
4. Sunnah Hammiyah (sunnah yang berupa keinginan Nabi SAW).

Dan “Sunnah” bisa pula berarti hukum sunnah, yaitu apabila diakukan mendapat pahala, apabila ditinggalkan tidak berdosa.
Dan “As-Sunnah” dipakai pula sebagai sinonim Al-Hadits. Imam Asy-Syathibiy berkata dalam kitab Al-Muwafaqat : Kata “As-Sunnah” itu dipakai juga untuk nama bagi segala apa yang tidak diterangkan di dalam AlQur’an, baik menjadi keterangan bagi isi Al-Qur’an ataupun tidak.
Dan dipakai juga sebagai lawannya “bid’ah”. Seperti dikatakan, “Si Fulan itu berada pada sunnah”. Yakni : ia mengerjakan perbuatan yang sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh Nabi SAW, baik pekerjaan itu ada nash-nya di dalam Al-Qur’an ataupun tidak.
Dan seperti dikatakan juga : “Si Fulan dalam bid’ah” . Yakni : Apabila ia telah mengerjakan pekerjaan yang berlawanan atau menyalahi perbuatan yang pernah dikerjakan oleh Nabi SAW.
Selanjutnya Asy-Syathibi berkata,“Dan kata “sunnah” ini dipakai juga menjadi nama bagi pekerjaan atau perbuatan para shahabat Nabi, baik pekerjaan itu terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah ataupun tidak.
Karena adanya pekerjaan tersebut dengan mencontoh “sunnah” , atau karena ijtihad mereka dengan disepakati para khalifah mereka, yang dikala itu tidak dibantah oleh seorangpun dari mereka. Pemakaian istilah ini disandarkan atas sabda Nabi SAW yang bunyinya :
“Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang rasyidin yang mengikuti petunjuk” . [HR. Darimiy juz 1, hal. 45, no. 93].


Demo Blog NJW V2 Updated at: 22:55

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Pertanyaan OOT silakan di Halaman Ruang Konsultasi. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx