Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Keutamaan-keutamaan 'Umar bin Al-Khaththab RA (lanjutan)

Posted by

Tarikh Al-Khulafaaur Raasyidiin (ke-36)
Khalifah 'Umar bin Al-Khaththab (3)
Keutamaan-keutamaan 'Umar bin Al-Khaththab RA (lanjutan)

عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيّ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: بَيْنَا اَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ النَّاسَ عُرِضُوْا عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِيَّ، وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ دُوْنَ ذ?لِكَ، وَعُرِضَ عَلَيَّ عُمَرُ وَعَلَيْهِ قَمِيْصٌ اجْتَرَّهُ. قَالُوْا: فَمَا اَوَّلْتَهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلدّيْنَ. البخارى 4: 201
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy RA, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi melihat beberapa orang dihadapkan kepadaku, mereka itu memakai baju gamis. Diantara mereka ada yang sampai buah dada, diantaranya lagi ada yang kurang dari itu. Dan 'Umar dihadapkan kepadaku dengan memakai baju gamis dengan menyeretnya". Lalu para shahabat bertanya, "Apa ta'wilnya, ya Rasulullah ?". Beliau bersabda, "Itu adalah agama"..[HR. Bukhari juz 4, hal. 201]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: صَعِدَ النَّبِيُّ ص اِلَى اُحُدٍ وَمَعَهُ اَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ، فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ قَالَ: اُثْبُتْ اُحُدُ، فَمَا عَلَيْكَ اِلَّا نَبِيٌّ، اَوْ صِدّيْقٌ، اَوْ شَهِيْدٌ. البخارى 4: 199
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Nabi SAW beserta Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman pernah mendaki gunung Uhud. Kemudian gunung Uhud mengguncang mereka. Maka Nabi SAW menghentaknya dengan kaki beliau dan bersabda, "Tetaplah wahai Uhud, karena tidaklah ada diatasmu melainkan seorang Nabi atau orang yang sangat benar, atau orang yang mati syahid. [HR. Bukhari juz 4, hal. 199]

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: لَقَدَ كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ رِجَالٌ يُكَلَّمُوْنَ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَكُوْنُوْا اَنْبِيَاءَ فَاِنْ يَكُنْ مِنْ اُمَّتِيْ مِنْهُمْ اَحَدٌ فَعُمَرُ. البخارى 4: 200
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya dahulu sebelum kalian, dikalangan Bani Israil ada orang-orang yang diajak bicara (oleh para malaikat), padahal mereka bukan para Nabi, maka jika ada seseorang dari ummatku yang seperti mereka, maka itu adalah 'Umar". [HR. Bukhari juz 4, hal. 200]

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَوْ كَانَ نَبِيٌّ بَعْدِيْ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ. الترمذى 5: 281، رقم: 3769، هذا حديث حسن غريب
Dari 'Uqbah bin 'Aamir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya ada Nabi susudahku, tentu ia adalah 'Umar bin Khaththab"..[HR. Tirmidzi juz 5, hal. 281, no. 3769], ia berkata : Ini hadits hasan gharib]

عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّ اللهَ جَعَلَ الحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ. قَالَ: وقَالَ ابْنُ عُمَرَ: مَا نَزَلَ بِالنَّاسِ اَمْرٌ قَطُّ فَقَالُوْا فِيْهِ وَقَالَ فِيْهِ عُمَرُ اَوْ قَالَ ابْنُ الخَطَّابِ فِيْهِ، شَكَّ خَارِجَةُ، اِلَّا نَزَلَ فِيْهِ القُرْآنُ عَلَى نَحْوِ مَا قَالَ عُمَرُ. الترمذى 5: 280، رقم: 3765، وهذا حديث حسن صحيح غريب
Dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran atas lisan 'Umar dan hatinya". Dan Ibnu 'Umar berkata, "Tidaklah terjadi sesuatu perkara yang orang-orang membicarakannya dan 'Umar atau Ibnul Khaththab mengatakannya (Kharijah, perawi ragu-ragu) melainkan turun ayat Al-Qur'an yang sesuai dengan pendapatnya 'Umar. [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 280, no. 3765, ini hadits hasan shahih gharib]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ عُمَرُ: وَافَقْتُ رَبّى فِىْ ثَلَاثٍ. فِى مَقَامِ اِبْرَاهِيْمَ وَفِى الْحِجَابِ وَفِى اُسَارَى بَدْرٍ. مسلم 4: 1865
Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : 'Umar pernah berkata : Pendapatku bersesuaian dengan kehendak Allah Tuhanku dalam tiga hal : 1). Tentang maqam Ibrahim, 2). Tentang hijab 3). Tentang tawanan perang Badr". [HR. Muslim juz 4, hal. 1865]
Keterangan :
Walaupun di dalam hadits ini disebutkan bahwa pendapat 'Umar yang sesuai dengan kehendak Allah itu dalam tiga hal, namun tidak berarti hanya dalam tiga hal itu saja pendapatnya 'Umar yang sesuai dengan kehendak Allah, karena ternyata banyak pendapat 'Umar bin Khaththab yang sesuai dengan kehendak Allah.

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ عُمَرُ رض: وَافَقْتُ اللهَ فِي ثَلَاثٍ اَوْ وَافَقَنِيْ رَبّي فِيْ ثَلَاثٍ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَوِ اتَّخَذْتَ مِنْ مَقَامِ اِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى. وَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ يَدْخُلُ عَلَيْكَ الْبَرُّ وَالْفَاجِرُ، فَلَوْ اَمَرْتَ اُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْحِجَابِ. فَاَنْزَلَ اللهُ آيَةَ الْحِجَابِ. قَالَ: وَبَلَغَنِي مُعَاتَبَةُ النَّبِيّ ص بَعْضَ نِسَائِهِ، فَدَخَلْتُ عَلَيْهِنَّ، قُلْتُ: اِنِ انْتَهَيْتُنَّ اَوْ لَيُبَدّلَنَّ اللهُ رَسُوْلَهُ ص خَيْرًا مِنْكُنَّ، حَتَّى اَتَيْتُ اِحْدَى نِسَائِهِ، قَالَتْ: يَا عُمَرُ اَمَا فِي رَسُوْلِ اللهِ ص مَا يَعِظُ نِسَاءَهُ حَتَّى تَعِظَهُنَّ اَنْتَ؟ فَاَنْزَلَ اللهُ عَس?ى رَبُّه اِنْ طَلَّقَكُنَّ اَنْ يُّبَدّلَه اَزْوَاجًا خَيْرًا مّنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ.... اَلْآيَةَ. البخارى 5: 149
Dari Anas, ia berkata : 'Umar RA pernah berkata, "Aku sesuai dengan kehendak Allah dalam tiga hal atau Tuhanku cocok dengan pendapatku dalam tiga hal, Aku pernah berkata, Ya Rasulullah, sebaiknya engkau jadikan dari maqam Ibrahim itu tempat shalat. (Maka turunlah QS. Al-Baqarah : 125)". Dan aku pernah berkata, "Ya Rasulullah, orang yang baik maupun orang yang buruk datang masuk rumahmu, maka sebaiknya engkau perintahkan kepada para ummahaatul mu'miniin supaya berhijab. Maka Allah menurunkan ayat perintah berhijab (QS. Al-Ahzaab : 53)". 'Umar berkata, "Dan telah sampai  khabar kepadaku bahwa Nabi SAW mencela kepada sebagian istri-istri beliau, lalu aku datang kepada para istri Nabi SAW dan aku berkata, "Sesungguhnya kalian berhenti dari permintaan kalian kepada Nabi SAW, atau Allah pasti akan menyuruh rasul-Nya untuk mencari ganti dengan para istri yang lebih baik daripada kalian !", hingga aku mendatangi salah seorang diantara istri Nabi SAW. Lalu Ia berkata, "Hai 'Umar, apakah Rasulullah SAW sudah tidak bisa menasehati istri-istrinya sehingga kamu yang menasehati mereka ?". Maka Allah lalu menurunkan ayat (yang artinya), "Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang tha'at, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan". (QS. At-Tahriim : 5). [HR. Bukhari juz 5, hal. 149]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: اِسْتَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ ص فِي اْلاُسَارَى اَبَا بَكْرٍ، فَقَالَ: قَوْمُكَ وَعَشِيْرَتُكَ فَخَلّ سَبِيْلَهُمْ. فَاسْتَشَارَ عُمَرُ، فَقَالَ: اُقْتُلْهُمْ. قَالَ: فَفَدَاهُمْ رَسُوْلُ اللهِ ص، فَاَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَا كَانَ لِنَبِيّ اَنْ يَّكُوْنَ لَه اَسْر?ى حَتّ?ى يُثْخِنَ فِي اْلاَرْضِ... اِلَى قَوْلِهِ فَكُلُوْا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَل?لًا طَيّبًا. قَالَ: فَلَقِيَ النَّبِيُّ ص عُمَرَ، قَالَ: كَادَ اَنْ يُصِيْبَنَا فِيْ خِلاَفِكَ بَلَاءٌ. الحاكم فى المستدرك. 2: 359، هذا حديث صحيح الاِسناد ولم يخرجاه
Dari Ibnu 'Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah meminta pendapat kepada Abu Bakar, mengenai para tawanan perang Badr. Maka Abu Bakar berkata, "Mereka itu juga kaummu dan kerabatmu, maka lepaskan saja mereka (dengan mengambil tebusan)". Lalu beliau SAW meminta pendapat kepada 'Umar (bin Khaththab). Maka 'Umar berkata, "Bunuh saja mereka itu". Kemudian Rasulullah SAW sependapat dengan Abu Bakar, lalu beliau melepaskan para tawanan perang Badar itu dengan mengambil tebusan. Kemudian Allah 'Azza wa Jalla menurunkan ayat (yang artinya), "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (67) Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. (68) Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertaqwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (69)". [Al-Anfaal : 67-69]. Ibnu 'Umar berkata : Kemudian Nabi SAW menemui 'Umar dan berkata, "Hampir-hampir bencana menimpa kami karena menyelisihi pendapatmu". [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2, hal. 359, no. 3270, ia berkata : Ini hadits shahih sanadnya, tetapi Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya]

عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: لَمَّا تُوُفّىَ عَبْدُ اللهِ بْنُ اُبَىّ ابْنُ سَلُوْلَ جَاءَ ابْنُهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص فَسَأَلَهُ اَنْ يُعْطِيَهُ قَمِيْصَهُ اَنْ يُكَفّنَ فِيْهِ اَبَاهُ، فَاَعْطَاهُ، ثُمَّ سَأَلَهُ اَنْ يُصَلّىَ عَلَيْهِ، فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص لِيُصَلّىَ عَلَيْهِ، فَقَامَ عُمَرُ فَاَخَذَ بِثَوْبِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَتُصَلّى عَلَيْهِ وَقَدْ نَهَاكَ اللهُ اَنْ تُصَلّىَ عَلَيْهِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّمَا خَيَّرَنِىَ اللهُ فَقَالَ: اِسْتَغْفِرْ لَهُمْ اَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ اِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً..... وَسَأَزِيْدُ عَلَى سَبْعِيْنَ. قَالَ: اِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص. وَ اَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا تُصَلّ عَلى? اَحَدٍ مّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلى? قَبْرِهِ. مسلم 4: 1865
Dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Ketika 'Abdullah bin Ubaiy bin Salul meninggal dunia, putranya yaitu Abdullah bin Abdullah datang kepada Rasulullah SAW meminta supaya diberikan baju gamis beliau untuk mengkafaninya. Maka Rasulullah SAW memberikannya. Kemudian Abdullah memohon kepada Nabi SAW agar menshalatkannya. Maka Rasulullah SAW berdiri untuk menshalatkannya, lalu 'Umar berdiri dan menarik pakaian Rasulullah SAW, dan berkata, "Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkannya, sedangkan Allah telah melarang engkau menshalatkannya ?". Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah hanya memberikan pilihan kepadaku, Allah berfirman "Mintakanlah ampun mereka itu atau tidak kamu mintakan ampun, meskipun mereka itu kamu mintakan ampun sampai tujuh puluh kali ….(QS. At-Taubah : 80), dan aku akan menambah memintakan ampun lebih tujuh puluh kali". 'Umar berkata, "Sesungguhnya ia orang munafiq". Kemudian Rasulullah SAW menshalatkannya. Lalu Allah 'Azza wa Jalla menurunkan ayat (yang artinya), "Dan janganlah kamu menshalatkan seseorang dari mereka (orang-orang munafiq) yang mati, selama-lamanya dan janganlah kamu (mendo'akan) di atas quburnya. (QS. At-Taubah : 84). [HR. Muslim juz 4, hal. 1865]

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيْلَ عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ اَنَّهُ قَالَ: اللّ?هُمَّ بَيّنْ لَنَا فِى اْلخَمْرِ بَيَانَ شِفَاءٍ فَنَزَلَتِ الَّتِى فِى الْبَقَرَةِ يَسْأَلُونَكَ عَنِ اْلخَمْرِ وَ الْمَيْسِرِ. اْلآيَةَ فَدُعِىَ عُمَرُ فَقُرِئَتْ عَلَيْهِ فَقَالَ: اللّ?هُمَّ بَيّنْ لَنَا فِى اْلخَمْرِ بَيَانَ شِفَاءٍ فَنَزَلَتِ الَّتِى فِى النّسَاءِ ي??اَيُّهَا الَّذِيْنَ ا?مَنُوْا لَا تَقْرَبُوْا الصَّلَاةَ وَ اَنْتُمْ سُك?ر?ى. فَدُعِىَ عُمَرُ فَقُرِئَتْ عَلَيْهِ فَقَالَ: اللّ?هُمَّ بَيّنْ لَنَا فِى اْلخَمْرِ بَيَانَ شِفَاءٍ فَنَزَلَتِ الَّتِى فِى الْمَائِدَةِ اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْط?نُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَ الْبَغْضَآءَ فِى اْلخَمْرِ وَ الْمَيْسِرِ اِلَى قَوْلِهِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ. فَدُعِىَ عُمَرُ فَقُرِئَتْ عَلَيْهِ فَقَالَ: اِنْتَهَيْنَا، اِنْتَهَيْنَا. الترمذى 4: 320، رقم: 5042
Dari 'Amr bin Syurahbil, dari ‘Umar bin Al-Khaththab, bahwasanya ia berdo’a, “Ya Allah, berilah keterangan kepada kami tentang khamr dengan keterangan yang jelas”. Maka turunlah ayat pada surat Al-Baqarah “Yas-aluunaka ‘anil khomri wal maisiri, qul fiihimaa itsmun kabiirun…, sampai akhir ayat”. Lalu ‘Umar dipanggil (oleh Rasulullah SAW), lalu ayat tersebut dibacakan kepadanya. Kemudian ‘Umar berdo’a lagi, “Ya Allah, berilah keterangan kepada kami tentang khamr dengan keterangan yang jelas”. Maka turunlah ayat pada surat An-Nisaa’ “Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa taqrobush sholaata wa antum sukaaroo…”. Lalu ‘Umar dipanggil (oleh Rasulullah SAW), lalu ayat tersebut dibacakan kepadanya. Kemudian ‘Umar berdo’a lagi, “Ya Allah, berilah keterangan kepada kami tentang khamr dengan keterangan yang jelas”. Maka turunlah ayat pada surat Al-Maaidah, “Innamaa yuriidukumusy syaithoonu ayyuuqi’a bainakumul ‘adaawata wal baghdloo-a fil khomri wal maisiri….. sampai firman Allah ….fahal antum muntahuun”. Lalu ‘Umar dipanggil (oleh Rasulullah SAW), lalu ayat tersebut dibacakan kepadanya. Maka ‘Umar berkata, “Kami berhenti (Ya Allah), kami berhenti”. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 320]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص اُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ اْلخَمْرَ فَجَلَدَهُ بِجَرِيْدَتَيْنِ نَحْوَ اَرْبَعِيْنَ. قَالَ: وَ فَعَلَهُ اَبُوْ بَكْرٍ. فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ اسْتَشَارَ النَّاسَ، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمنِ: اَخَفَّ اْلحُدُوْدِ ثَمَانِيْنَ. فَاَمَرَ بِهِ عُمَرُ. مسلم 3: 1330
Dari Anas bin Malik, sesungguhnya pernah dihadapkan kepada Nabi SAW seorang laki-laki yang telah minum khamr. Lalu orang tersebut dipukul dengan dua pelepah kurma sebanyak 40 kali. Anas berkata, "Cara seperti itu dilakukan juga oleh Abu Bakar". Lalu ketika 'Umar (menjadi Khalifah), beliau bermusyawarah dengan para shahabat yang lain, lalu 'Abdur Rahman (bin 'Auf) berkata, "Hukumlah dengan hukuman hadd yang paling ringan yaitu 80 kali. Lalu 'Umar pun memerintahkan dengan hukuman itu (peminum khamr supaya didera 80 kali)". [HR. Muslim juz 3, hal. 1330]

عَنْ اَنَسٍ، عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ اُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الخَمْرَ فَضَرَبَهُ بِجَرِيْدَتَيْنِ نَحْوَ اْلاَرْبَعِيْنَ، وَفَعَلَهُ اَبُوْ بَكْرٍ، فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ اسْتَشَارَ النَّاسَ، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْم?نِ بْنُ عَوْفٍ: كَاَخَفّ الْحُدُوْدِ ثَمَانِيْنَ، فَاَمَرَ بِهِ عُمَرُ. الترمذى 2: 449، 1471، حديث انس حديث حسن صحيح
Dari Anas, dari Nabi SAW bahwasanya pernah didatangkan kepada beliau seorang laki-laki yang telah minum khamr, maka beliau memukul dengan dua pelepah kurma sebanyak 40 kali. Dan Khalifah Abu Bakar juga melaksanakan hukuman peminum khamr seperti itu. Lalu ketika 'Umar menjadi khalifah, beliau bermusyawarah dengan para shahabat, lalu 'Abdur Rahman bin 'Auf mengusulkan, "Hukumlah peminum khamr seperti hukuman hadd yang paling ringan,yaitu didera 80 kali", maka 'Umar pun memerintahkan yang demikian itu. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 449, no. 1471, ia berkata : Haditsnya Anas hadits hasan shahih].
Bersambung.………


Demo Blog NJW V2 Updated at: 22:04

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Pertanyaan OOT silakan di Halaman Ruang Konsultasi. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx