Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Wali meminta persetujuan pada wanita yang akan dinikahkan, Tidak ada nikah tanpa wali

Posted by


Rasulullah SAW suri teladan yang baik (ke-79)
Tentang Nikah (3)
6. Wali meminta persetujuan pada wanita yang akan dinikahkan

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ تُنْكَحُ اْلاَيّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَ لاَ تُنْكَحُ اْلبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ كَيْفَ اِذْنُهَا؟ قَالَ: اَنْ تَسْكُتَ. مسلم 2: 1036
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan sehingga ia diajak musyawarah, dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan sehingga dimintai idzinnya”. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana idzinnya ?”. Rasulullah SAW menjawab, “(Idzinnya) ia diam”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1036]

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، تُسْتَأْمَرُ النّسَاءُ فِى اَبْضَاعِهِنَّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: فَاِنَّ اْلبِكْرَ تُسْتَأْمَرُ فَتَسْتَحِى فَتَسْكُتُ. قَالَ: سُكَاتُهَا اِذْنُهَا. البخارى 8: 57
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Aku pernah bertanya, “Ya Rasulullah, apakah wanita-wanita itu (harus) diminta idzinnya dalam urusan perkawinan mereka ?”. Beliau menjawab, “Ya”. Aku bertanya lagi, “Sesungguhnya seorang gadis (apabila) diminta idzinnya ia malu dan diam”. Rasulullah SAW menjawab, “Diamnya itulah idzinnya”. [HR. Bukhari juz 8, hal. 57]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنِ اْلجَارِيَةِ يُنْكِحُهَا اَهْلُهَا، اَ تُسْتَأْمَرُ اَمْ لاَ؟ فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص: نَعَمْ، تُسْتَأْمَرُ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ لَهُ: فَاِنَّهَا تَسْتَحْيِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَذلِكَ اِذْنُهَا اِذَا هِيَ سَكَتَتْ. مسلم 2: 1037
Dari ‘Aisyah, ia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang jariyah yang dinikahkan oleh tuannya, apakah ia dimintai persetujuannya atau tidak ? Maka Rasulullah SAW bersabda, “Ya, dimintai persetujuannya”. Maka ‘Aisyah berkata : Lalu aku berkata kepada Rasulullah SAW, “(Ya Rasulullah), padahal dia malu”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Itulah keridloannya apabila ia diam”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1037]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اْليَتِيْمَةُ تُسْتَأْمَرُ  فِى نَفْسِهَا، فَاِنْ صَمَتَتْ فَهُوَ اِذْنُهَا. وَ اِنْ اَبَتْ فَلاَ جَوَازَ عَلَيْهَا. الترمذى 2: 288، رقم: 1115
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Gadis yatim dimintai persetujuannya tentang urusan dirinya, kemudian jika ia diam, maka itulah idzinnya, tetapi jika ia menolak, maka tidak boleh memaksanya”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 288, no. 1115]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَلاَيّمُ اَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيّهَا، وَ اْلبِكْرُ تُسْتَأْذَنُ فِى نَفْسِهَا. وَ اِذْنُهَا صُمَاتُهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. مسلم 2: 1037
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Janda itu lebih berhak atas dirinya dari pada walinya, sedangkan gadis dimintai idzinnya. (Shahabat bertanya), “Dan idzinnya itu adalah diamnya?”. Beliau menjawab, “Ya”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1037]

عِنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَلثَّيّبُ اَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيّهَا وَ اْلبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ وَ اِذْنُهَا سُكُوْتُهَا. مسلم 2: 1037
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Janda lebih berhaq terhadap dirinya daripada walinya, sedangkan gadis harus dimintai persetujuannya, dan persetujuannya itu adalah diamnya”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1037]

عَنْ خَنْسَاءَ بِنْتِ خِذَامٍ اْلاَنْصَارِيَّةِ اَنَّ اَبَاهَا زَوَّجَهَا وَ هِيَ ثَيّبٌ فَكَرِهَتْ ذلِكَ، فَاَتَتْ رَسُوْلَ اللهِ ص، فَرَدَّ نِكَاحَهُ. البخارى 6: 135
Dari Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyyah, bahwasanya ayahnya telah menikahkannya, sedangkan ia adalah seorang janda, dan ia tidak suka yang demikian itu, lalu ia datang kepada Rasulullah SAW (melaporkannya), maka Rasulullah SAW membathalkan pernikahan itu. [HR. Bukhari juz 6, hal. 135]

عَنْ خَنْسَاءَ بِنْتِ خِذَامٍ اْلاَنْصَارِيَّةِ اَنَّ اَبَاهَا زَوَّجَهَا وَ هِيَ ثَيّبٌ فَكَرِهَتْ ذلِكَ. فَجَائَتْ رَسُوْلَ اللهِ ص فَذَكَرَتْ لَهُ فَرَدَّ نِكَاحَهَا. ابو داود 2: 233، رقم: 2101
Dari Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyah, bahwa ayahnya telah menikahkannya, padahal ia seorang janda, lalu ia tidak menyukai yang demikian itu, lalu ia datang kepada Rasulullah SAW dan melaporkan peristiwa itu, maka Rasulullah SAW membatalkan pernikahannya”. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 233, no. 2101]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ يَزِيْدَ وَ مُجَمَّعِ بْنِ يَزِيْدَ اْلاَنْصَارِيَّيْنِ اَنَّ رَجُلاً مِنْهُمْ يُدْعَى خِذَامًا اَنْكَحَ ابْنَةً لَهُ، فَكَرِهَتْ نِكَاحَ اَبِيْهَا. فَاَتَتْ رَسُوْلَ اللهِ ص فَذَكَرَتْ لَهُ. فَرَدَّ عَلَيْهَا نِكَاحَ اَبِيْهَا. فَنَكَحَتْ اَبَا لُبَابَةَ بْنَ عَبْدِ اْلمُنْذِرِ. ابن ماجه 1: 602، رقم: 1873
Dari ‘Abdur Rahman bin Yazid Al-ANshariy dan Mujamma’ bin Yazid Al-Anshariy, bahwasanya ada seorang laki-laki diantara mereka yang bernama Khidzam menikahkan anak perempuannya, padahal anak perempuan itu tidak suka dengan laki-laki yang dinikahkan ayahnya. Maka ia datang kepada Rasulullah SAW, lalu menceritakan hal itu, maka Nabi SAW membathalkan pernikahan itu, kemudian anak perempuan itu menikah dengan Abu Lubabah bin ‘Abdul Mundzir. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 602, no 1873]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا اَتَتِ النَّبِيَّ ص، فَذَكَرَتْ لَهُ اَنَّ اَبَاهَا زَوَّجَهَا وَ هِيَ كَارِهَةٌ، فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ ص. ابن ماجه 1: 603، رقم: 1875
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya ada seorang gadis datang kepada Nabi SAW, lalu ia melaporkan kepada beliau bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedangkan ia tidak suka. Lalu Nabi SAW menyuruhnya untuk memilih (dibathalkan atau tidak). [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 603, no. 1875]

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: جَاءَتْ فَتَاةٌ اِلَى النَّبِيّ ص فَقَالَتْ: اِنَّ اَبِى زَوَّجَنِى ابْنَ اَخِيْهِ لِيَرْفَعَ خَسِيْسَتَهُ. قَالَ: فَجَعَلَ اْلاَمْرَ اِلَيْهَا. فَقَالَتْ: قَدْ اَجَزْتُ مَا صَنَعَ اَبِى وَلكِنْ اَرَدْتُ اَنْ تَعْلَمَ النّسَاءُ اَنْ لَيْسَ اِلىَ اْلآبَاءِ مِنَ اْلاَمْرِ شَيْءٌ. ابن ماجه 1: 602، رقم: 1874
Dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, ia berkata : Datang seorang gadis kepada Nabi SAW, lalu ia berkata, “(Ya Rasulullah), sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan anak saudaranya agar derajatnya meningkat”. (Buraidah berkata) : Lalu Rasulullah menyerahkan urusan itu kepada gadis tersebut (untuk memilihnya). Kemudian wanita itu berkata, “Sesungguhnya aku rela dengan apa yang diperbuat ayahku, hanyasaja aku ingin agar para wanita mengetahui bahwasanya para bapak itu tidak berhak memaksa anaknya sedikitpun”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 602, no. 1874]

7. Tidak ada nikah tanpa wali

عَنْ اَبِى مُوْسَى قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ نِكَاحَ اِلاَّ بِوَلِيّ. الترمذى 2: 280، رقم: 1107
Dari Abu Musa, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada nikah melainkan dengan (adanya) wali”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 280, no. 1107]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ اِذْنِ وَلِيّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ. فَاِنْ دَخَلَ بِهَا، فَلَهَا اْلمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، فَاِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ. الترمذى 2: 280، رقم: 1108
Dari ‘Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja wanita yang menikah tanpa idzin walinya, maka nikahnya batal, maka nikahnya batal, maka nikahnya batal. Kemudian jika (suaminya) telah mencampurinya, maka bagi wanita itu berhak memperoleh mahar sebab apa yang telah ia anggap halal dari mencampurinya. Kemudian jika mereka (wali-walinya) berselisih, maka penguasa (hakim) yang menjadi walinya”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 280, no. 1108].

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ نِكَاحَ اِلاَّ بِوَلِيّ وَ اَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ وَلِيّ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ بَاطِلٌ باَطِلٌ. فَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلِيٌّ فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا. ابو داود الطيالسى ص: 206، رقم: 1463
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Tidak ada nikah melainkan dengan (adanya) wali, dan siapasaja wanita yang nikah tanpa wali maka nikahnya batal, batal, batal. Jika dia tidak punya wali, maka penguasa (hakimlah) walinya wanita yang tidak punya wali”. [HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi hal. 206, no. 1463]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ اِذْنِ وَلِيّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ. فَاِنْ دَخَلَ بِهَا فَالْمَهْرُ لَهَا بِمَا اَصَابَ مِنْهَا. فَاِنْ تَشَاجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ. الدارقطنى 3: 221، رقم: 10
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Siapasaja wanita yang menikah tanpa idzin walinya, maka nikahnya bathal, maka nikahnya bathal, maka nikahnya bathal. Maka jika laki-laki itu sudah mengumpulinya, maka si wanita berhak mendapatkan maharnya, karena apa yang telah terjadi itu. Dan jika wali-walinya itu berselisih (bertengkar), maka penguasa (hakim) sebagai wali orang yang tidak mempunyai wali”. [HR. Daruquthni juz 3, hal. 221, no. 10]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تُزَوّجِ اْلمَرْأَةُ اْلمَرْأَةَ، وَ لاَ تُزَوّجِ اْلمَرْأَةُ نَفْسَهَا، فَاِنَّ الزَّانِيَةَ هِيَ الَّتِى تُزَوّجُ نَفْسَهَا. الدارقطنى 3: 227، ررقم: 25
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah wanita menikahkan wanita dan janganlah wanita menikahkan dirinya sendiri, karena wanita pezina itu ialah yang menikahkan dirinya sendiri”. [HR. Daruquthni juz 3, hal. 227, no. 25]

عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ قَالَ: جَمَعَتِ الطَّرِيْقُ رَكْبًا فَجَعَلَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُمْ ثَيّبٌ اَمْرُهَا بِيَدِ رَجُلٍ غَيْرِ وَلِيّ فَاَنْكَحَهَا فَبَلَغَ ذلِكَ عُمَرَ. فَجَلَدَ النَّاكِحَ وَ اْلمُنْكِحَ وَ رَدَّ نِكَاحَهَا. الدارقطنى 3: 225، رقم: 20
Dari ‘Ikrimah bin Khalid, ia berkata, “Pernah terjadi di jalan penuh kendaraan. Lalu ada seorang janda diantara mereka menyerahkan urusan dirinya kepada seorang laki-laki yang bukan walinya, lalu laki-laki itu menikahkannya. Kemudian sampailah hal itu kepada Umar, lalu Umar memukul orang yang menikahi dan yang menikahkannya serta membatalkan pernikahannya”. [HR. Daruquthni juz 3, hal. 225, no. 20]

عَنِ الشَّعْبِ قَالَ: مَا كَانَ اَحَدٌ مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيّ ص اَشَدُّ فِى النّكَاحِ بِغَيْرِ وَلِيّ مِنْ عَلِيّ رض، وَ كَانَ يَضْرِبُ فِيْهِ. الدارقطنى 3: 229، رقم: 33
Dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Tidak ada seorang pun diantara shahabat Nabi SAW yang paling keras (tindakannya) terhadap pernikahan tanpa wali daripada Ali RA,dan  ia memukul (pelakunya)”. [HR. Daruquthni juz 3, hal. 229, no. 33]
Keterangan :
Dari hadits-hadits diatas menunjukkan harus adanya wali dalam pernikahan. Namun ada juga ulama yang berpendapat bahwa wali itu bukan merupakan suatu keharusan. Walloohu a’lam.

Bersambung…….


Demo Blog NJW V2 Updated at: 02:35

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Silahkan di Copy dan di Share kalau di rasa bermanfaat tidak perlu izin. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx