Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Utusan Nashrani Najran berdamai dengan Nabi SAW

Posted by


tauhid
Tarikh Nabi Muhammad SAW (ke-160)

Utusan Nashrani Najran berdamai dengan Nabi SAW.
Diriwayatkan bahwa pada tahun ke-10 Hijriyah, utusan kaum Nashrani Najran datang kepada Nabi SAW. Diantara mereka ialah As-Sayyid, Al-‘Aaqib dan uskup Abu Haritsah atau Abu Harits, dan beberapa orang ketua-ketua dan pembesar-pembesar gereja mereka.
Mereka itu datang dengan memakai pakaian yang indah-indah, memakai ridaa’ dari sutera dan memakai cincin-cincin emas. Dan mereka pun membawa hadiah-hadiah untuk Nabi SAW berupa hamparan-hamparan yang bergambar dan kain-kain tebal yang terbuat dari bulu. Beliau SAW tidak mau menerima hamparan-hamparan yang bergambar itu, tetapi beliau mau menerima kain-kain tebal yang terbuat dari bulu.
Kedatangan mereka ini diterima baik oleh Nabi SAW. Mereka datang pada waktu ‘Ashar, dan ketika itu kaum muslimin telah selesai mengerjakan shalat ‘Ashar di masjid Nabi. Karena itu, mereka ingin pula mengerjakan shalat di masjid Nabi, tetapi sebagian kaum muslimin tidak suka melihat mereka mengerjakan shalat dengan cara-cara mereka di dalam masjid Nabi SAW. Maka dari itu kaum muslimin akan mencegah mereka, tetapi Nabi SAW menyuruh kaum muslimin agar membiarkan mereka mengerjakan shalat di dalam masjid menurut cara mereka. Mereka itu menghadapkan muka ke timur, lalu shalat bersama-sama dengan cara yang biasa mereka lakukan.
Setelah mereka selesai mengerjakan shalat, kemudian Nabi SAW bercakap-cakap dengan mereka, dan mengajak mereka untuk masuk Islam, dan membacakan kepada mereka beberapa ayat Al-Qur’an. Mendengar ajakan Nabi SAW itu mereka menjawab :
كُنَّا مُسْلِمِيْنَ قَبْلَكُمْ
“Kami telah mengikut Islam sebelum tuan”.
Mendengar jawaban yang demikian, maka Nabi SAW bersabda :
يَمْنَعُكُمُ مِنَ اْلاِسْلاَمِ ثَلاَثٌ. عِبَادَتُكُمُ الصَّلِيْبَ، وَ اَكْلُكُمْ لَحْمَ اْلخِنْزِيْرِ وَ زَعْمُكُمْ اَنَّ ِللهِ وَلَدًا. نور اليقين:
(Kalian dusta), ada tiga perkara yang menghalangi kalian dari Islam, yaitu kalian menyembah shalib, kalian memakan daging babi, dan kalian menganggap Allah mempunyai anak. [Nuurul Yaqiin hal. 235]
Kemudian mereka berkata :
فَمَنْ مَثَلُ عِيْسَى خُلِقَ مِنْ غَبْرِ اَبٍ؟
Siapa yang seperti ‘Isa yang diciptakan tanpa ayah ?.
Maka Allah menurunkan ayat :
اِنَّ مَثَلَ عِيْسى عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ ادَمَ، خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُوْنُ. ال عمران:
Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah (seorang manusia)”, maka jadilah dia. [QS. Ali ‘Imraan : 59]
Kemudian terjadilah perdebatan sengit antara mereka dengan Nabi SAW tentang Nabi ‘Isa AS, mereka menganggapnya sebagai putra Allah, sedangkan Nabi SAW menegaskan bahwa ‘Isa itu adalah hamba Allah, pesuruh-Nya dan kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam.
Kemudian Allah menurunkan ayat :
فَمَنْ حَآجَّكَ فِيْهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ اْلعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَآءَنَا وَ اَبْنَآءَكُمْ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَكُمْ وَ اَنْفُسَنَا وَ اَنْفُسَكُمْ، ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللهِ عَلَى اْلكذِبِيْنَ. ال عمران:
Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyaqinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah, dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. [QS. Ali ‘Imraan : 61]
Mereka tidak mau mengakui bahwa Nabi ‘Isa itu utusan Allah, dan tetap mempercayai bahwa ‘Isa itu putra Allah. Oleh karena mereka masih tetap dalam pendiriannya yang demikian, maka Nabi SAW mengajak mereka untuk bermubahalah, yaitu masing-masing pihak orang yang berbeda pendapat itu berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta.
Mendengar ajakan Nabi yang demikian itu, maka salah seorang diantara mereka minta ditangguhkan, karena mereka ingin berpikir dulu, dan mereka berjanji akan kembali lagi kepada Nabi SAW. Setelah mereka berpaling dari Nabi SAW, kemudian mereka berunding (musyawarah). Dalam musyawarah mereka itu, terjadilah pertengkaran diantara mereka, karena sebagian dari mereka tidak menyetujui dan tidak sanggup bermubahalah dengan Nabi SAW.
Mereka yang tidak menyetujui bermubahalah atau mulaa’anah dengan Nabi itu ialah mereka yang yaqin dan mengakui bahwa Muhammad itu adalah betul-betul seorang Nabi yang diutus Allah. Oleh sebab tu mereka berpendapat : Andaikata terjadi mubahalah, tentu berat sekali akibat yang akan mereka tanggung.
Oleh sebab itu akhirnya mereka memutuskan bahwa mereka tidak usah mengadakan mubahalah dengan Nabi, tetapi cukup dengan mengadakan perdamaian saja.
Kemudian pada pagi harinya, Nabi SAW telah siap menghadapi mereka dengan membawa Hasan, Husain, Fathiman dan ‘Ali RA, dan beliau bersabda :
اَللّهُمَّ هؤُلآءِ اَهْلِى،
Ya Allah, inilah keluargaku.
Setelah utusan Najran itu datang kepada Nabi SAW, maka berkatalah uskup kepada segenap pengikutnya : (Hai kawan-kawanku kaum Nashara), sesungguhnya aku melihat wajah-wajah, andaikata mereka memohon kepada Allah supaya melenyapkan gunung dari tempatnya, niscaya Dia akan melenyapkan gunung itu dari tempatnya. Maka dari itu janganlah kalian bermubahalah, yang akan menyebabkan kalian dibinasakan, dan tidak akan tersisa seorang pun orang Nashrani di muka bumi ini (sampai hari qiyamat). [Sirah Al-Halabiyah juz 3, hal. 299]
Kemudian mereka berkata kepada Nabi SAW, “Ya Abal Qaasim, kami telah sepakat bahwa kami tidak akan bermubahalah dengan engkau”.
Akhirnya mereka sepakat membuat perdamaian dengan Nabi SAW dengan ketentuan membayar jizyah. Mereka membayar seribu helai pakaian pada bulan Shafar dan seribu helai pada bulan Rajab. Setiap helai pakaian seharga satu uqiyah perak. Kemudian Nabi SAW menulis surat perjanjian untuk mereka. Selanjutnya mereka berkata, “Kirimkanlah kepada kami seorang yang terpercaya”. Maka Rasulullah SAW mengirim Abu ‘Ubaidah ‘Aamir bin Jarah RA untuk mereka. Dan beliau bersabda kepada mereka, “Ini adalah orang kepercayaan dari ummat ini”.
Diriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda sebagai berikut :
اَمَا وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ، لَقَدْ تَدَلَّى اْلعَذَابُ عَلَى اَهْلِ نَجْرَانَ، وَ لَوْ لاَعَنُوْنِى لَمُسِخُوْا قِرَدَةً وَ خَنَازِيْرَ وَ َلاُضْرِمَ اْلوَادِى عَلَيْهِمْ نَارًا وَ لاَسْتَأْصَلَ اللهُ تَعَالَى نَجْرَانَ وَ اَهْلَهُ حَتَّى الطَّيْرَ عَلَى الشَّجَرِ وَ لاَ حَالَ اْلحَوْلُ عَلَى النَّصَارَى حَتَّى يُهْلَكُوْا. الحلبية  : 
Demi Tuhan yang diriku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya siksaan itu hampir turun kepada penduduk Najran. Andaikata mereka itu bermubahalah, niscaya berubahlah mereka menjadi kera dan babi, dan niscaya lembah mereka akan menyala api membakar mereka, dan niscaya Allah akan menghancurkan kota Najran dan penduduknya, hingga burung yang di atas pohon sekalipun, dan tidak sampai satu tahun kaum Nashraniy akan dibinasakan seluruhnya. [Sirah Al-Halabiyah juz 3, hal. 299]
Ibnu Katsir menuturkan tentang sebab turunnya ayat mubahalah tersebut sebagai berikut :
Sebab turunnya ayat mengenai mubahalah dan ayat sebelumnya mulai dari awal surat ini hingga ayat di atas adalah berkenaan dengan utusan Najran. Sesungguhnya ketika kaum Nashrani datang, lalu mereka berdebat tentang ‘Isa, dan mereka menganggap bahwa ‘Isa adalah anak Allah dan sebagai tuhan. Maka Allah menurunkan ayat mulai awal surat Ali ‘Imraan sebagai penolakan terhadap kepercayaan mereka, sebagaimana diceritakan oleh Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar dan lainnya. Berkata Ibnu Ishaq dalam sirahnya yang terkenal dan lainnya, sebagai berikut :
Datang kepada Rasulullah SAW utusan Nashraniy Najran sebanyak enam puluh orang penunggang. Diantara mereka terdapat empat belas orang pemukanya. Keenam puluh orang itu menyerahkan persoalannya kepada empat belas orang tersebut, mereka itu ialah :
1. Al-‘Aaqib, nama aslinya ‘Abdul Masiih.
2. As-Sayyid, nama aslinya Al-Aiham.
3. Abul Haaritsah bin ‘Alqamah, saudaranya Abu Bakar bin Waail.
4. Uwais bin Al-Haarits
5. Zaid
6. Qais.
7, 8, 9. Yazid dan dua anak laki-lakinya.
10. Khuwailid.
11. ‘Amr.
12. Khalid.
13. ‘Abdullah.
14. Muhsin.
Kemudian keempat belas orang itupun menyerahkan persoalannya kepada tiga orang. Ketiga orang itu ialah Al-Aaqib yang merupakan pemimpin mereka. Dialah yang memiliki pemikiran dan urusan perundingan. Kedua, Sayyid yang berasal dari kalangan ilmuwan. Dan yang ketiga yaitu Abu Haritsah bin Alqamah. Dia adalah uskup mereka, orang yang paling cerdik diantara mereka. Dahulunya dia adalah seorang bangsa Arab dari Banu Bakar bin Waail, lalu menganut agama Nashraniy sehingga ia disanjung dan dimuliakan oleh rakyat dan raja Romawi. Dan mereka membuatkan untuknya gereja-gereja dan pelayan-pelayan untuk mengajarkan agama Nashraniy. Sebelumnya, Abu Haaritsah bin Alqamah sudah mengetahui tentang Rasulullah SAW, sifatnya dan perangainya dari kitab-kitab terdahulu yang dipelajarinya, namun pengetahuan itu malah mendorongnya untuk tetap memeluk agama Nashrani, karena ia merasakan penghargaan dan penghormatan yang diberikan kepadanya oleh penduduk dan penguasa Romawi.
Ibnu Ishaq berkata : Menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far bin Zubair, ia berkata : (Orang-orang Nashraniy Najran) datang kepada Rasulullah SAW di Madinah, lalu mereka masuk masjid beliau pada waktu shalat ‘Ashar. Mereka itu memakai pakaian yang indah-indah, jubah dan ridaa’, yaitu sebagus-bagus orang-orang Bani Harits bin Ka’ab. Orang yang pernah melihat mereka dari shahabat /Nabi SAW mengatakan, “Sesudah mereka, kami tidak pernah melihat tamu yang seperti mereka”.
Waktu shalat mereka tiba, maka mereka pun mengerjakan shalatnya di dalam masjid Rasulullah SAW. Beliau SAW bersabda, “Biarkanlah mereka”. Mereka shalat menghadap ke timur. Kemudian utusan itu berbicara dengan Rasulullah SAW. Diantara mereka itu ialah Abu Haaritsah bin ‘Alqamah, Al-‘Aaqib ‘Abdul Masiih dan As-Sayyid Al-Aiham, mereka itu beragama Nashraniy, mengikuti agama raja mereka.
Mereka mengatakan tentang ‘Isa sebagai Allah, putra Allah dan tuhan ketiga. Maha Tinggi dan Maha Agung Allah dari apa yang mereka katakan.
Seperti itulah orang-orang Nashraniy, mereka mengatakan bahwa ‘Isa adalah Allah dengan alasan bahwa ‘Isa dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan orang sakit kusta, dan berbagai penyakit lainnya, dan dapat memberitahukan perkara ghaib, dan membentuk burung dari tanah, lalu meniupnya, lalu jadilah burung yang bisa terbang. Padahal semuanya itu adalah perintah Allah, supaya Allah menjadikannya sebagai ayat bagi manusia.
Dan pendapat mereka bahwa ‘Isa anak Allah didasarkan kepada alasan bahwa ia tidak memiliki dan tidak diketahui bapaknya, serta dapat berbicara ketika masih dalam buaian, sesuatu yang tidak pernah diperbuat oleh seorangpun dari Bani Adam sebelumnya. Pendapat mereka bahwa ‘Isa adalah tuhan yang ketiga didasarkan kepada firman Allah Ta’aalaa, “Kami melakukan, Kami memerintahkan, Kami menciptakan, dan Kami menetapkan”. Mereka mengatakan, “Jika Tuhan satu, niscaya Dia tidak mengatakan kecuali, “Aku melakukan, Aku memerintahkan, Aku menciptakan, dan Aku menetapkan”, tetapi mengatakan demikian, karena yang berkata adalah Tuhan, ‘Isa dan Maryam. Maha Tinggi, Maha Suci, dan Maha Bersih Allah dari apa yang diucapkan oleh orang-orang yang dhalim itu, mereka menolaknya lantaran tinggi hati dan sombong. Untuk menjawab masing-masing perkataan mereka itu, telah diturunkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Setelah dua pendeta itu berkata demikian kepada Nabi SAW, maka Rasulullah SAW bersabda kepada keduanya, “Masuk Islam lah kalian”. Keduanya menjawab, “Kami telah masuk Islam”. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian belum masuk Islam, maka Islamlah !”. Keduanya menjawab, “Bahkan kami masuk Islam sebelum kamu”. Nabi SAW bersabda, “Kalian berdua berdusta, menghalangi kalian dari Islam karena kalian berpendapat bahwa Allah punya anak. Ibadah kalian kepada salib. Dan kalian juga makan babi”. Kedua pendeta itu bertanya, “Kalau begitu, siapa bapaknya, hai Muhammad ?”. Maka Rasulullah SAW diam dan tidak menjawab keduanya. Berkaitan dengan hal itu Allah SWT menurunkan ayat mulai dari permulaan surat ‘Ali ‘Imran hingga mencapai 80 ayat lebih dari surat tersebut.
Ibnu Ishaq berkata, “Setelah Rasulullah SAW mendapat khabar dan penjelasan dari Allah sebagai landasan untuk memutuskan perselisihan antara beliau dengan mereka, beliau diperintahkan untuk mengajak mereka bermubahalah, jika mereka tetap menolaknya. Maka Nabi SAW mengajak mereka untuk bermubahalah (saling mela’nat). Lalu mereka menjawab, “Hai Abul Qaasim, berikan kami kesempatan untuk berpikir atas persoalan kami, nanti kami akan menemuimu kembali untuk menyampaikan pendapat kami mengenai ajakanmu itu”. Lalu mereka pun pergi. Kemudian mereka bermusyawarah secara rahasia dengan Al-‘Aaqib sebagai pencetus ide mereka. Mereka bertanya, “Hai Abdul Masiih, bagaimana pendapatmu ?” Dia menjawab, “Demi Allah, wahai kaum Nashrani, kalian sudah mengetahui bahwa Muhammad itu benar-benar seorang Nabi yang diutus. Mengenai dia, telah sampai khabar dengan nyata oleh shahabatmu, dan kalian pun sudah tahu bahwa tidak pernah ada suatu kaum yang mulaa’anah dengan seorang Nabi pun lalu masih tinggal orang dewasa dari mereka, dan tidak akan tumbuh generasi muda mereka. Dia akan memusnahkan kamu sampai ke akar-akarnya, jika kamu melakukannya. Maka sekarang peluklah agamamu dan peganglah pendapat yang selama ini kalian anut tentang ‘Isa, dan biarkanlah laki-laki itu, serta kembalilah kamu ke negerimu”. Kemudian mereka menemui Nabi SAW seraya berkata, “Hai Abul Qaasim, kami telah memutuskan untuk tidak akan melakukan mubahalah denganmu, dan kami meninggalkan kamu menganut agamamu, dan kami pun akan kembali dengan menganut agama kami. Namun, utuslah salah seorang shahabatmu yang kamu ridlai untuk menyertai kami dan yang akan memutuskan perselisihan diantara kami mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan kekayaan kami. Kami ridla diberi keputusan oleh dia”.
Muhammad bin Ja’far berkata : Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Datanglah kalian kepadaku nanti sore, aku akan mengutus bersama kalian orang yang kuat lagi terpercaya”. Maka ‘Umar bin Khaththab RA berkata, “Tidak pernah aku sangat menginginkan kepemimpinan seperti pada hari itu, dan aku berharap akulah orangnya (yang terpilih). Maka sampai tengah hari itu saya sangat gembira. Setelah Rasulullah SAW selesai shalat Dhuhur, sesudah salam, beliau melihat kekanan dan kekiri, lalu aku agak menampakkan diri agar beliau melihatku. Beliau terus mencari dengan pandangan beliau, sehingga beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, lalu beliau memanggilnya dan bersabda, “Keluarlah kamu bersama mereka, berilah keputusan diantara mereka dengan benar tentang apa yang mereka perselisihkan”. ‘Umar berkata, “Maka berangkatlah Abu ‘Ubaidah RA dengan kepemimpinannya itu”. [Tafsir Ibnu Katsir juz 1, hal. 452]
Keterangan :
Ulama tarikh berselisih pendapat tentang kapan kaum Nashraniy Najran itu datang kepada Nabi SAW. Menurut pengarang tarikh “Nuurul Yaqiin”, peristiwa tersebut terjadi pada tahun ke-10 H, namun ada pula yang mengatakan terjadi pada tahun ke-9 H, dan ada pula yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada awwal-awwal Hijrah.
Walloohu a’lam.


Demo Blog NJW V2 Updated at: 18:58

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Pertanyaan OOT silakan di Halaman Ruang Konsultasi. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx