Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Utusan dari Banu Asad

Posted by


tauhid
Tarikh Nabi Muhammad SAW(ke-156)
Utusan dari Banu Asad
Diantara utusan yang menghadap Nabi SAW ialah utusan dari Banu Asad, diantara mereka ialah Dliraar bin Al-Azuur, Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadiy, Wabishah bin Mabad, Muadzah bin Abdullah bin Khalaf dan Hadlramiy bin Aamir. Ketika mereka datang, Nabi SAW sedang duduk bersama para shahabat di dalam masjid. Lalu salah seorang diantara mereka berkata :
يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَنَّكَ عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُه، وَ جِئْنَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ لَمْ تَبْعَثْ اِلَيْنَا بَعْثًا وَ نَحْنُ لِمَنْ وَرَائَنَا. الحلبية 3: 329
Ya Rasulullah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan sesungguhnya engkau adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Kami datang kepada engkau ya Rasulullah (diwaktu tahun paceklik), sedangkan engkau belum pernah mengirimkan seorang utusan pun kepada kami, padahal di belakang kami ada banyak orang dari kaum kami. [Al-Halabiyah juz 3, hal. 329]
Di dalam riwayat lain disebutkan :
يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَسْلَمْنَا وَ لَمْ نُقَاتِلْكَ كَمَا قَاتَلَكَ اْلعَرَبُ. الحلبية 3: 329
Ya Rasulullah, kami telah masuk Islam, dan kami belum pernah memerangi engkau sebagaimana orang-orang Arab memerangi engkau. {Al-Halabiyah juz 3, hal. 329]
Kemudian Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi SAW sebagai berikut :
يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا، قُلْ لاَّ تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلاَمَكُمْ، بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَديكُمْ ِلـْلاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صدِقِيْنَ. الحجرات: 17
Mereka merasa telah memberi ni’mat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa telah memberi ni’mat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan ni’mat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan, kalau kamu memang orang-orang yang benar. [QS. Al-Hujuraat : 17]
Kemudian mereka bertanya kepada Nabi SAW tentang mempelajari sihir, tenung dan sebagainya, yang biasa mereka lakukan di masa jahiliyyah. Maka beliau melarang semuanya itu. Sebelum pulang, mereka tinggal di Madinah beberapa hari untuk mempelajari agama Islam.
Utusan Farwah bin Musaik Al-Muraadiy.
Diantara utusan yang datang menghadap Nabi SAW ialah Farwah bin Musaik Al-Muraadiy, ia memisahkan diri dari raja-raja Kindah. Sebelum Islam, kaumnya pernah berperang amat sengit dengan kaum Hamdan, sehingga tidak sedikit dari kaumnya yang tewas. Pada hari terjadinya peperangan itu, terkenal dengan nama hari “Ar-Radm”.
Ketika Farwah datang kepada Nabi SAW, Nabi bertanya kepadanya :
هَلْ سَاءَكَ مَا اَصَابَ قَوْمَكَ يَوْمَ الرَّدْمِ؟ الحلبية3: 318
(Hai Farwah), apakah menyusahkanmu apa yang menimpa kaummu pada hari Radm ?. [Al-Halabiyah juz 3, hal. 318]
Farwah menjawab, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang kaumnya ditimpa suatu mushibah sebagaimana yang menimpa kaumku lalu tidak menjadikannya susah ?”.
Oleh karena itu Nabi SAW lalu bersabda :
اَمَا اِنَّ ذلِكَ لَمْ يَزِدْ قَوْمَكَ فِى اْلاِسْلاَمِ اِلاَّ خَيْرًا.
Ketahuilah, bahwasanya yang demikian itu tidak menambah pada kaummu di dalam Islam kecuali kebaikan juga.
Maksudnya, mushibah yang menimpa kaumnya itu akan menambah kebaikan Islam mereka.
Selanjutnya Nabi SAW menunjuk Farwah untuk mengatur dan memerintah qabilah Muraad dan qabilah Zubaid.
Kemudian Nabi SAW mengutus Khalid bin Sa’id bin ‘Ash bersama Farwah untuk mengatur dan mengurus urusan Zakat qabilah tersebut. Dan Khalid bin Sa’id menetap di sana sampai Nabi SAW wafat.
Utusan dari Bani Tsa’labah
Diantara utusan yang menghadap Nabi SAW ialah utusan dari Bani Tsa’labah, yang terdiri dari empat orang. Mereka datang kepada Nabi SAW untuk menyatakan keislaman mereka. Ketika itu Rasulullah SAW keluar dari rumah beliau, sedangkan kepala beliau masih meneteskan air. Kemudian sebagian dari mereka berkata, “Itulah Rasulullah sedang melihat kita. Marilah kita cepat-cepat menemui beliau”. Sedangkan Bilal sedang iqamah untuk shalat.
Kemudian mereka mengucapkan salam kepada Nabi SAW, lalu mereka berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami datang ini adalah sebagai utusan dari orang-orang yang di belakang kami, sedangkan kami telah menyatakan keislaman kami. Sesungguhnya telah diberitahukan kepada kami bahwa tuan pernah bersabda :
لاَ اِسْلاَمَ لِمَنْ لا هِجْرَةَ لَهُ
Tidak ada Islam bagi orang yang tidak berhijrah.
Rasulullah SAW bersabda :
حَيْثُمَا كُنْتُمْ وَ اتَّقَيْتُمُ اللهَ فَلاَ يَضُرُّكُمْ. الحلبية 3: 324
Dimanasaja kamu berada apabila kamu bertaqwa kepada Allah, maka yang demikian itu tidak memudaratkan kamu. [Al-Halabiyah juz 3, hal. 324]
Kemudian mereka shalat Dhuhur bersama Rasulullah SAW. Setelah selesai, beliau masuk ke rumah, lalu tamu tersebut dipanggil menghadap beliau. Nabi SAW bertanya kepada mereka :
كَيْفَ بِلاَدِكُمْ
Bagaimana keadaan negeri kalian.
Mereka menjawab, “Negeri kami dalam keadaan shubur”.
Nabi SAW lalu bersabda, “Alhamdu lillah (Segala puji bagi Allah)”.
Sesudah itu para utusan tersebut tinggal di Madinah hingga beberapa hari sebagai tamu Nabi SAW. Ketika mereka akan kembali, tiap-tiap seorang dari mereka diberi hadiah oleh Nabi SAW sebanyak lima uqiyah dari perak (1 uqiyah = 40 dirham). Selanjutnya mereka kembali kepada kaum mereka dengan membawa seruan Islam.
Utusan dari Banu Murrah
Diantara utusan yang menghadap Nabi SAW ialah utusan dari qabilah Banu Murrah, yang terdiri dari 13 orang dan dipimpin oleh Al-Harits bin ‘Auf.
Mereka datang untuk menyatakan keislaman mereka. Kemudian mereka berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami ini adalah kaum tuan dan famili tuan. Kami adalah keturunan Luaiy bin Ghalib”.
Mendengar perkataan mereka yang demikian itu, maka beliau tersenyum, sambil bertanya kepada Al-Harits :
اَيْنَ تَرَكْتَ اَهْلَكَ
Di manakah engkau tinggalkan keluarga kalian ?.
Harits menjawab, “Di kampung Silah, dan tempat-tempat yang berdekatan dengan kampung itu”.
Kemudian Nabi SAW bertanya lagi :
كَيْفَ اْلبِلاَدُ؟
Bagaimanakah keadaan negeri itu ?.
Harits menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya kami dalam keadaan paceklik, di negeri kami sudah tidak punya harta benda. Oleh karena itu sudilah kiranya engkau mendoakan untuk kami”.
Ketika itu Nabi SAW lalu berdo’a :
اَللّهُمَّ اسْقِهِمُ اْلغَيْثَ. الحلبية 3: 331
Ya Allah, siramilah mereka dengan hujan. [Al-Halabiyah juz 3, hal. 331]
Kemudian mereka tinggal di Madinah selama beberapa hari sebagai tamu Nabi SAW. Ketika mereka akan pulang, mereka datang kepada Nabi SAW untuk berpamitan, maka Nabi SAW memerintahkan kepada Bilal supaya memberi hadiah kepada mereka 10 uqiyah perak kepada masing-masing orang, sedangkan kepada Al-Harits, beliau memberikan 12 uqiyah.
Ketika mereka tiba di negerinya, hujan turun amat lebat, lalu mereka bertanya kepada kaum mereka, “Sudah sejak kapankah turun hujan ?“. Maka jawaban kaum mereka itu menunjukkan bahwa hujan telah turun sejak hari ketika Rasulullah SAW memohon hujan untuk mereka. Sesudah itu, suburlah negeri mereka, sehingga segenap penduduk negeri tidak kelaparan lagi.
Wafatnya Ibrahim.
Pada bulan Rabi’ul awwal tahun ke-10 Hijriyah, Ibrahim putra Nabi SAW meninggal dunia dalam usia 1,5 tahun. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Nabi SAW pernah kehilangan dua putra beliau, Al-Qaasim dan ‘Abdullah yang meninggal ketika masih kecil, dan juga telah meninggal beberapa putri beliau yang sudah bersuami, sehingga tidak ada lagi putra beliau selain Fathimah istri ‘Ali. Oleh sebab itu, ketika beliau mempunyai putra yang diberi nama Ibrahim, tidak mengherankan kalau beliau sangat cinta kepadanya, walaupun Ibrahim ini dilahirkan oleh Mariyah Al-Qibthiyah, bekas seorang hamba sahaya raja. Dan dengan lahirnya Ibrahim, terbukalah pintu harapan beliau sebagai seorang manusia yang ingin meninggalkan keturunan yang baik.
Akan tetapi kecintaan Nabi SAW kepada putra beliau yang demikian tidak dikekalkan oleh Allah SWT. Tidak lama kemudian setelah Nabi SAW dan kaum muslimin kembali dari Tabuk, tiba-tiba Ibrahim jatuh sakit, yaitu sakit yang membawa wafatnya.
Ketika sakit Ibrahim makin bertambah berat dan payah, beliau mengangkat Ibrahim dengan tangan beliau yang gemetar, kemudian beliau letakkan di atas pangkuan beliau. Karena terharunya hati dan perasaan beliau, sehingga beliau tampak sedih.
Dengan tidak disadari, air mata beliau yang tadinya terbendung lalu mengalir sampai membasahi pipi beliau, sedangkan ajal menghampiri Ibrahim juga. Sehingga ibu dan bibi Ibrahim menangis meratapi putranya yang berbaring di atas pangkuan ayahnya yang mulia itu, dan Nabi SAW membiarkan saja kedua orang itu menangisinya.
Setelah Nabi SAW melihat bahwa tubuh Ibrahim sudah tak bergerak lagi dan ajalnya sudah tiba di atas pangkuan beliau sebagai seorang ayah yang mencintainya, maka bertambah deraslah air mata beliau, sampai membasahi kedua pipi beliau.
Kemudian Nabi SAW bersabda :
تَدْمَعُ اْلعَيْنُ وَ يَحْزَنُ اْلقَلْبُ وَ لاَ نَقُوْلُ اِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا. وَ اللهِ يَا اِبْرَاهِيْمُ اِنَّا بِكَ لَمَحْزُوْنُوْنَ. مسلم 4: 1808
Sesungguhnya air mata berlinang dan hati berduka. Kami tidak berkata melainkan apa yang diridlai Tuhan kami. Demi Allah ya Ibrahim, sesungguhnya kami sangat berduka karena berpisah denganmu”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1808]
Kemudian beliau bersabda lagi :
اِنَّ اِبْرَاهِيْمَ اِبْنِى وَ اِنَّهُ مَاتَ فِى الثَّدْيِ وَ اِنَّ لَهُ لَظِئْرَيْنِ تُكَمّلاَنِ رَضَاعَهُ فِى اْلجَنَّةِ. مسلم 4: 1808
Sesungguhnya Ibrahim itu anak saya, dan dia mati dalam susuan. Dan sesungguhnya ia mempunyai dua ibu susu yang akan menyempurnakan susuannya di surga. [HR. Muslim juz 4, hal. 1808]
Diriwayatkan bahwa yang memandikan jenazah Ibrahim adalah Al-Fadhl bin Abbas. Adapun yang turun ke liang quburnya adalah Al-Fadhl dan Usamah bin Zaid. Dan diriwayatkan pula bahwa beliau menshalatkan jenazah Ibrahim tersebut . [Sirah Nabawiyah, Adz-Dzahabiy juz 2, hal. 288]
Peristiwa gerhana matahari
Menurut riwayat, ketika Ibrahim wafat, kebetulan tejadi gerhana matahari, sedangkan Ibrahim ini adalah anak yang paling beliau cintai. Maka sebagian kaum muslimin menganggap bahwa peristiwa itu adalah satu peristiwa yang luar biasa. Sebagian kaum muslimin menganggap bahwa gerhana matahari itu menunjukkan kekeramatan Ibrahim putra Nabi tersebut, oleh karena itu mataharipun ikut berkabung atas wafatnya. Dan sebagian kaum muslimin ada pula yang berkata, “Inilah mu’jizat dari Tuhan disebabkan wafatnya Ibrahim putra Nabi tersebut”.
Desas-desus dari perkataan dan sangkaan kaum muslimin yang demikian itu akhirnya sampai kepada Nabi SAW, maka dalam khutbah di muka orang ramai beliau menegaskan :
اِنَّ الشَّمْسَ وَ اْلقَمَرَ ايَتَانِ مِنْ ايتِ اللهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَ لاَ لِحَياتِهِ، فَاِذَا رَاَيْتُمُوهُمَا ذلِكَ فَادْعُوا الله وَ صَلُّوْا حَتَّى يَنْجَلِيَ. البخارى 2: 30
Ketahuilah, sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, kedua-duanya itu tidak gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahiran seseorang. Karena itu apabila kalian melihat gerhana, hendaklah kalian berdoa kepada Allah dan shalatlah sehingga gerhana pulih kembali. [HR. Bukhari juz 2, hal. 30]
Dan ketika terjadi gerhana tersebut Nabi SAW dan para shahabat melakukan shalat gerhana dua rekaat dengan empat ruku’ dan empat sujud sebagaimana riwayat berikut :
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيّ ص قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى حَيَاةِ رَسُوْلِ اللهِ ص، فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِلىَ اْلمَسْجِدِ فَقَامَ وَ كَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ. فَاقْتَرَأَ رَسُوْلُ اللهِ ص قِرَاءَةً طَوِيْلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوْعًا طَوِيْلاً. ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَ لَكَ اْلحَمْدُ. ثُمَّ  قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيْلَةً. هِيَ اَدْنَى مِنَ اْلقِرَاءَةِ اْلاُوْلىَ. ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوْعًا طَوِيْلاً هُوَ اَدْنَى مِنَ الرُّكُوْعِ اْلاَوَّلِ. ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ اْلحَمْدُ. ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ فَعَلَ فِى الرَّكْعَةِ اْلاُخْرَى مِثْلَ ذلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَ اَرْبَعَ سَجَدَاتٍ. وَ انْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ اَنْ يَنْصَرِفَ. ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ. فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ اَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: اِنَّ الشَّمْسَ وَ اْلقَمَرَ ايَتَانِ مِنْ ايَاتِ اللهِ. لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَاِذَا رَأَيْتُمُوْهَا فَافْزَعُوْا لِلصَّلاَةِ. مسلم 2: 619
Dari 'Aisyah istri Nabi SAW, ia berkata, "Sesungguhnya telah terjadi gerhana matahari dimasa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW pergi ke masjid. Kemudian beliau berdiri dan bertakbir dan orang-orang bershaf di belakang beliau. Dalam shalat tersebut Rasulullah SAW membaca bacaan yang panjang. Kemudian beliau bertakbir dan ruku' dengan ruku' yang panjang pula. Kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil membaca "Sami'alloohu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamdu". Lalu beliau membaca lagi bacaan yang panjang, tetapi lebih pendek dari pada bacaan yang pertama. Sesudah itu beliau bertakbir lalu ruku' dengan ruku' yang panjang, tetapi lebih pendek dari pada ruku' yang pertama tadi. Kemudian beliau membaca (sambil berdiri) "Sami'alloohu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamdu". Sesudah itu beliau sujud. Kemudian beliau melaksanakan pada raka'at yang kedua sedemikian itu pula, sehingga genap empat kali ruku' dan empat kali sujud, sedang matahari pun muncul kembali sebelum beliau selesai (shalat). Setelah itu Rasulullah SAW berkhutbah, memuji Allah SWT dengan pujian-pujian-Nya, kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Dua-duanya tidaklah gerhana karena mati atau lahirnya seseorang. Apabila kamu sekalian melihat yang demikian itu maka segeralah untuk melaksanakan shalat". [HR. Muslim 2 : 619]
Dengan riwayat ini jelaslah bahwa walaupun di dalam saat yang sedemikian sedih dan susahnya, namun Nabi SAW tidak lupa akan tugas risalah yang beliau pikul, tidak lengah dari kewajiban dan senantiasa memberikan peringatan kepada segenap kaum muslimin.


Demo Blog NJW V2 Updated at: 18:52

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Pertanyaan OOT silakan di Halaman Ruang Konsultasi. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx