Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Tentang susuan yang menjadikan mahram, Tentang menyusui orang dewasa

Posted by


Halal Haram Dalam Islam (ke-39)
Rasulullah SAW suri teladan yang baik (ke-86)
Tentang Nikah (10)
21. Tentang susuan yang menjadikan mahram

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ تُحَرّمُ اْلمَصَّةُ وَ لاَ اْلمَصَّتَانِ. مسلم 2: 1073
Dari ‘Aisyah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sekali hisapan dan dua kali hisapan itu tidak menjadikan mahram”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1073]

عَنْ اُمّ اْلفَضْلِ حَدَثَتْ اَنَّ نَبِيَّ اللهِ ص قَالَ: لاَ تُحَرّمُ الرَّضْعَةُ اَوِ الرَّضْعَتَانِ، اَوِ اْلمَصَّةُ اَوِ اْلمَصَّتَانِ. مسلم 2: 1074
Dari Ummu Fadhl, ia menceritakan bahwasanya Nabiyyullah SAW bersabda, “Tidak dapat menjadikan mahram sekali susuan atau dua kali susuan, sekali hisapan atau dua kali hisapan”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1074]

عَنْ اُمّ الْفَضْلِ قَالَتْ: دَخَلَ اَعْرَابِيٌّ عَلَى نَبِيّ اللهِ ص وَ هُوَ فِى بَيْتِى، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، اِنّى كَانَتْ لِى امْرَأَةٌ فَتَزَوَّجْتُ عَلَيْهَا اُخْرَى، فَزَعَمَتِ امْرَأَتِى اْلاُوْلَى اَنَّهَا اَرْضَعَتِ امْرَأَتِى اْلحُدْثَى رَضْعَةً اَوْ رَضْعَتَيْنِ. فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: لاَ تُحَرّمُ اْلاِمْلاَجَةُ وَ اْلاِمْلاَجَتَانِ. مسلم 2: 1074
Dari Ummul Fadhl, ia berkata : Ada seorang ‘Arab gunung masuk ke tempat Nabiyyullah SAW, sedang Nabi SAW pada waktu itu berada di rumahku. Lalu orang tersebut berkata, “Ya Nabiyyullah, sesungguhnya aku mempunyai seorang istri, kemudian aku menikah lagi dengan seorang perempuan lain, lalu istriku yang pertama itu merasa pernah menyusui istriku yang kedua ini sekali atau dua kali susuan, (yang demikian itu bagaimana) ?”. Nabiyyullah SAW bersabda, “Tidak dapat menjadikan mahram, sekali hisapan dan dua kali hisapan”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1074].

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اَمَرَ امْرَأَةَ اَبِى حُذَيْفَةَ فَاَرْضَعَتْ سَالِمًا خَمْسَ رَضَعَاتٍ. فَكَانَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ. احمد 6: 255
Dari ‘Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW pernah menyuruh istri Abu Hudzaifah (supaya menyusui Saalim), lalu ia menyusui Saalim sebanyak lima kali susuan. Maka Saalim keluar-masuk rumahnya dengan sebab penyusuan tersebut. [HR. Ahmad juz 6, hal. 255].

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ اَنَّهُ سُئِلَ عَنْ رَضَاعَةِ الْكَبِيرِ، فَقَالَ اَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ اَنَّ اَبَا حُذَيْفَةَ بْنَ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيْعَةَ وَكَانَ مِنْ اَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ ص وَكَانَ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَكَانَ تَبَنَّى سَالِمًا الَّذِي يُقَالُ لَهُ سَالِمٌ مَوْلَى اَبِي حُذَيْفَةَ كَمَا تَبَنَّى رَسُوْلُ اللهِ ص زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ، وَ اَنْكَحَ اَبُو حُذَيْفَةَ سَالِمًا وَ هُوَ يَرَى اَنَّهُ ابْنُهُ اَنْكَحَهُ بِنْتَ اَخِيْهِ فَاطِمَةَ بِنْتَ الْوَلِيْدِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيْعَةَ وَ هِيَ يَوْمَئِذٍ مِنَ الْمُهَاجِرَاتِ اْلاُوَلِ وَهِيَ مِنْ اَفْضَلِ اَيَامَى قُرَيْشٍ. فَلَمَّا اَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ فِيْ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ مَا اَنْزَلَ فَقَالَ: اُدْعُوْهُمْ لابَآئِهِمْ هُوَ اَقْسَطُ عِنْدَ اللهِ، فَاِنْ لَّمْ تَعْلَمُوْآ ابَآءَهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ فِي الدّيْنِ وَ مَوَالِيْكُمْ. رُدَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ اُولئِكَ اِلَى اَبِيْهِ فَاِنْ لَمْ يُعْلَمْ اَبُوْهُ رُدَّ اِلَى مَوْلاَهُ، فَجَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ وَ هِيَ امْرَأَةُ اَبِيْ حُذَيْفَةَ وَ هِيَ مِنْ بَنِيْ عَامِرِ بْنِ لُؤَيّ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص، فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كُنَّا نَرَى سَالِمًا وَلَدًا وَ كَانَ يَدْخُلُ عَلَيَّ وَ اَنَا فُضُلٌ وَ لَيْسَ لَنَا اِلاَّ بَيْتٌ وَاحِدٌ، فَمَاذَا تَرَى فِيْ شَأْنِهِ؟. فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص: اَرْضِعِيْهِ خَمْسَ رَضَعَاتٍ. فَيَحْرُمُ بِلَبَنِهَا وَ كَانَتْ تَرَاهُ ابْنًا مِنَ الرَّضَاعَةِ. فَاَخَذَتْ بِذلِكَ عَائِشَةُ اُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْمَنْ كَانَتْ تُحِبُّ اَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهَا مِنْ الرّجَالِ فَكَانَتْ تَأْمُرُ اُخْتَهَا اُمَّ كُلْثُوْمٍ بِنْتَ اَبِي بَكْرٍ الصّدّيْقِ وَ بَنَاتِ اَخِيْهَا اَنْ يُرْضِعْنَ مَنْ اَحَبَّتْ اَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهَا مِنَ الرّجَالِ، وَ اَبَى سَائِرُ اَزْوَاجِ النَّبِيّ ص اَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِنَّ بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ اَحَدٌ مِنَ النَّاسِ، وَ قُلْنَ: لاَ وَ اللهِ، مَا نَرَى الَّذِيْ اَمَرَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ ص سَهْلَةَ بِنْتَ سُهَيْلٍ اِلاَّ رُخْصَةً مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص فِيْ رَضَاعَةِ سَالِمٍ وَحْدَهُ، لاَ وَ اللهِ، لاَ يَدْخُلُ عَلَيْنَا بِهذِهِ الرَّضَاعَةِ اَحَدٌ. فَعَلَى هذَا كَانَ اَزْوَاجُ النَّبِيّ ص فِيْ رَضَاعَةِ الْكَبِيْرِ. مالك فى الموطأ 2: 705، رقم: 12
Dari Ibnu Syihab bahwasanya dia pernah ditanya tentang hukum menyusui orang yang sudah dewasa. Maka ia berkata, " 'Urwah bin Zubair mengkhabarkan kepadaku bahwa Abu Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah (dia seorang shahabat Rasulullah SAW yang ikut perang Badar), dia telah mengangkat Saalim sebagai anak angkatnya yang biasa dipanggil "Saalim maula Abu Hudzaifah", yaitu sebagaimana Rasulullah SAW mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat beliau. Abu Hudzaifah menganggap Saalim sudah seperti anaknya sendiri, oleh karena itu dia menikahkan Saalim dengan anak saudaranya, yaitu Fathimah binti Al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah, yang pada waktu itu Fathimah termasuk golongan wanita yang pertama-tama ikut berhijrah, dia juga termasuk janda dari kalangan Quraisy yang utama. Tatkala Allah Ta'aalaa menurunkan ayat dalam kitab-Nya berkenaan dengan peristiwa Zaid bin Haritsah, yang artinya  (Panggillah (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah Ta'aalaa, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu) [QS. Al-Ahzaab : 5], maka setiap anak angkat dikembalikan nasabnya kepada bapaknya masing-masing. Jika tidak diketahui siapa bapaknya, maka dikembalikan kepada para walinya. Kemudian Sahlah binti Suhail, isteri Abu Hudzaifah wanita dari Bani 'Amir bin Lu'aiy menemui Rasulullah SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, dahulu kami melihat Saalim sebagai anak yang masih kecil, dia biasa masuk ke tempatku, sedang aku memakai pakaian sehari-hari dan kami tidak mempunyai rumah kecuali hanya satu, lalu bagaimana pendapat engkau tentang hal itu ?". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Susuilah dia lima kali susuan". Maka dengan susuan itu ia menjadi mahram, dan Sahlah memandangnya sebagai anak susu. 'Aisyah Ummul Mukminin lalu melakukannya terhadap orang laki-laki yang ia ingin bertemu dengannya. Maka ia menyuruh saudara wanitanya, yaitu Ummu Kultsum binti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan anak-anak perempuan dari saudaranya untuk menyusui orang laki-laki yang dia inginkan untuk bertemu dengannya. Namun seluruh isteri Nabi SAW menolak menjadikan penyusuan sebagai sarana agar seseorang bisa bertemu dengan mereka, dan mereka berkata, "Tidak, demi Allah, menurut pendapat kami perintah Rasulullah SAW kepada Sahlah binti Suhail itu tidak diberikan kepadanya kecuali sebagai keringanan dari Rasulullah SAW, khusus untuk Saalim saja. Tidak, demi Allah, seseorang tidak boleh bertemu dengan kami hanya lantaran penyusuan semacam ini". Begitulah pandangan isteri-isteri Nabi SAW mengenai penyusuan orang dewasa". [HR. Maalik dalam Al-Muwaththa' juz 2, hal. 705, no. 12]
Keterangan :
Dari hadits-hadits diatas bisa diambil kesimpulan bahwa menyusu yang bisa menjadikan sebagai anak susu itu paling sedikit adalah lima kali susuan.

 22. Tentang menyusui orang dewasa

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ اِلَى النَّبِيّ ص فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنّى اَرَى فِى وَجْهِ اَبِى حُذَيْفَةَ مِنْ دُخُوْلِ سَالِمٍ (وَ هُوَ حَلِيْفُهُ). فَقَالَ النَّبيُّ ص: اَرْضِعِيْهِ. قَالَتْ: وَ كَيْفَ اُرْضِعُهُ وَ هُوَ رَجُلٌ كَبِيْرٌ؟ فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ قَالَ: قَدْ عَلِمْتُ اَنَّهُ رَجُلٌ كَبِيْرٌ. مسلم 2: 1076
Dari ‘Aisyah, ia berkata : Sahlah binti Suhail (istri Abu Hudzaifah) datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku melihat perubahan wajah Abu Hudzaifah berkenaan dengan keberadaan Saalim di rumah kami, bagaimanakah yang demikian itu ?”. (Saalim adalah anak angkatnya). Nabi SAW bersabda, “Susuilah dia !”. Sahlah berkata, “Bagaimana aku menyusuinya sedangkan dia sudah dewasa ?”. Maka Rasulullah SAW tersenyum lalu bersabda, “Aku tahu bahwasanya dia itu laki-laki yang sudah dewasa”. [HR. Muslim juz 2, hal 1076]

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ اُمّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قَالَتْ اُمُّ سَلَمَةَ لِعَائِشَةَ: اِنَّهُ يَدْخُلُ عَلَيْكِ اْلغُلاَمُ اْلاَيْفَعُ الَّذِى مَا اُحِبُّ اَنْ يَدْخُلَ عَلَيَّ؟ قَالَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: اَمَا لَكِ فِى رَسُوْلِ اللهِ ص اُسْوَةٌ؟ قَالَتْ: اِنَّ امْرَأَةَ اَبِى حُذَيْفَةَ قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ سَالِمًا يَدْخُلُ عَلَيَّ وَ هُوَ رَجُلٌ وَ فِى نَفْسِ اَبِى حُذَيْفَةَ مِنْهُ شَيْءٌ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَرْضِعِيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْكِ. مسلم 2: 1077
Dari Zainab binti Ummu Salamah, ia berkata : Ummu Salamah berkata kepada A’isyah, “Sesungguhnya ada seorang yang sudah baligh keluar-masuk ke (rumah)mu yang aku tidak suka ia masuk ke (rumah)ku”. (Perawi) berkata : Maka  Aisyah menjawab, “Bukankah pada diri Rasulullah SAW ada suri teladan yang baik bagimu ?”. ‘Aisyah berkata : Sesungguhnya istri Abu Hudzaifah pernah berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Saalim keluar masuk (rumah)-ku, padahal ia kini telah dewasa sedangkan pada diri Abu Hudzaifah ada sesuatu terhadapnya, yang demikian itu bagaimana ?”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Susuilah ia, sehingga ia boleh keluar masuk rumahmu”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1077].

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ سَالِمًا مَوْلَى اَبِى حُذَيْفَةَ كَانَ مَعَ اَبِى حُذَيْفَةَ وَ اَهْلِهِ فِى بَيْتِهِمْ. فَاَتَتْ (تَعْنِى اِبْنَةَ سُهَيْلٍ) النَّبِيَّ ص، فَقَالَتْ: اِنَّ سَالِمًا قَدْ بَلَغَ مَا يَبْلُغُ الرّجَالُ، وَ عَقَلَ مَا عَقَلُوْا، وَ اِنَّهُ يَدْخُلُ عَلَيْنَا وَ اِنّى اَظُنُّ اَنَّ فِى نَفْسِ اَبِى حُذَيْفَةَ مِنْ ذلِكَ شَيْئًا. فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ ص: اَرْضِعِيْهِ تَحْرُمِى عَلَيْهِ وَ يَذْهَبِ الَّذِى فِى نَفْسِ اَبِى حُذَيْفَةَ. فَرَجَعَتْ، فَقَالَتْ: اِنّى قَدْ اَرْضَعْتُهُ، فَذَهَبَ الَّذِى فِى نَفْسِ اَبِى حُذَيْفَةَ. مسلم 2: 1076
Dari ‘Aisyah, bahwasanya Saalim anak angkatnya Abu Hudzaifah ikut bersama Abu Hudzaifah dan keluarganya di rumah mereka. Lalu istri Abu Hudzaifah (anak perempuan Suhail) datang kepada Nabi SAW, dan berkata, “Sesungguhnya Saalim telah baligh, dan akalnya pun sebagaimana pada umumnya orang dewasa dan dia berada di rumah kami. Sedangkan aku menyangka bahwa pada diri Abu Hudzaifah ada sesuatu (kecemburuan) berkenaan dengan hal itu, bagaimanakah yang demikian itu ?”. Nabi SAW bersabda kepadanya, “Susuilah dia, maka kamu menjadi mahram kepadanya dan akan hilanglah sesuatu yang ada pada diri Abu Hudzaifah”. Lalu Sahlah pulang. Kemudian ia berkata, “Sungguh aku telah menyusuinya, maka hilanglah sesuatu yang ada pada diri Abu Hudzaifah". [HR. Muslim juz 2, hal 1076]

عَنْ اَبِى عُبَيْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَمْعَةَ اَنَّ اُمَّهُ زَيْنَبَ بِنْتَ اَبِى سَلَمَةَ اَخْبَرَتْهُ اَنَّ اُمَّهَا اُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيّ ص كَانَتْ تَقُوْلُ: اَبَى سَائِرُ اَزْوَاجِ النَّبِيّ ص اَنْ يُدْخِلْنَ عَلَيْهِنَّ اَحَدًا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ، وَ قُلْنَ لِعَائِشَةَ: وَ اللهِ مَا نَرَى هذَا اِلاَّ رُخْصَةً اَرْخَصَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص لِسَالِمٍ خَاصَّةً، فَمَا هُوَ بِدَاخِلٍ عَلَيْنَا اَحَدٌ بِهذِهِ الرَّضَاعَةِ وَ لاَ رَائِيْنَا. مسلم 2: 1078
Dari Abu 'Ubaidah bin 'Abdillah bin Zam'ah, bahwasanya ibunya, yaitu Zainab binti Abu Salamah memberitahukan kepadanya, bahwa ibunya (yaitu) Ummu Salamah istri Nabi SAW berkata : Seluruh istri-istri Nabi SAW menolak memasukkan seorang laki-laki ke (rumah) mereka dengan (cara) susuan seperti itu, dan mereka berkata kepada ‘Aisyah, “Demi Allah, kami tidaklah memandang (penyusuan Saalim) ini melainkan suatu keringanan yang dikhususkan oleh Rasulullah SAW untuk Saalim saja. Maka tidak boleh seorang laki-laki masuk (rumah) kami dengan cara susuan seperti itu dan juga tidak boleh melihat kami”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1078].

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يُحَرّمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ اِلاَّ مَا فَتَقَ اْلاَمْعَاءَ فِى الثَّدْيِ، وَ كَانَ قَبْلَ اْلفِطَامِ. الترمذى 2: 311، رقم: 1162، و قال هذا حديث حسن صحيح
Dari Ummu Salamah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak dapat menjadikan mahram melainkan susuan yang memberi bekas pada perut dengan susuan itu, dan hal itu terjadi pada waktu anak tersebut belum disapih”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 311, no. 1162, dan ia berkata : Ini hadits hasan shahih].

عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ رَضَاعَ اِلاَّ مَا كَانَ فِى اْلحَوْلَيْنِ. الدارقطنى 4: 174، رقم: 10
Dari ‘Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada susuan melainkan yang berlangsung dalam (usia) dua tahun”. [HR. Daruquthni juz 4, hal. 174, no. 10].

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: لاَ رَضَاعَ اِلاَّ مَا شَدَّ اْلعَظْمَ وَ اَنْبَتَ اللَّحْمَ. ابو داود 2: 222، رقم: 2059
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Tidak ada penyusuan melainkan apa yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging”. [HR. Abu Dawud juz 2, hal 222, no. 2059]

عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لاَ رَضَاعَ بَعْدَ فِصَالٍ وَ لاَ يُتْمَ بَعْدَ احْتِلاَمٍ. ابو داود الطياليسى فى مسنده 1: 243، رقم: 1767
Dari Jabir dari Nabi SAW, ia berkata, “Tidak ada susuan sesudah disapih dan tidak ada yatim sesudah baligh”. [HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam musnadnya juz 1, hal. 243, no. 1767].

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ يَقُوْلُ: لاَ رَضَاعَ اِلاَّ فِى الْحَوْلَيْنِ فِى الصّغَرِ. الدارقطنى 4: 174، رقم: 11
Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Saya mendengar 'Umar berkata, "Tidak termasuk susuan melainkan dalam usia dua tahun ketika anak masih kecil". [HR. Daruquthni juz 4, hal. 174, no. 11]

عَنْ مَسْرُوْقٍ قَالَ: قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ عِنْدِى رَجُلٌ قَاعِدٌ، فَاشْتَدَّ ذلِكَ عَلَيْهِ، وَ رَأَيْتُ اْلغَضَبَ فِى وَجْهِهِ. قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّهُ اَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ. قَالَتْ: فَقَالَ: اُنْظُرْنَ اِخْوَتَكُنَّ مِنَ الرَّضَاعَةِ، فَاِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ اْلمَجَاعَةِ. مسلم 2: 1078
Dari Masruq, ia berkata : ‘Aisyah berkata : Rasulullah SAW pernah masuk ke rumahku, sedang di sisiku ada seorang laki-laki yang sedang duduk. Maka Rasulullah SAW tidak suka yang demikian itu dan aku melihat kemarahan di wajah beliau". 'Aisyah berkata : Lalu aku berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya dia adalah saudaraku sepesusuan”. 'Aisyah berkata : Beliau lalu bersabda, “Perhatikanlah saudara-saudara kalian sepesusuan, karena sesungguhnya radla’ah (susuan) itu hanyalah yang dapat menghilangkan rasa lapar”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1078]
Keterangan :
Tentang menyusui orang dewasa ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama:
Pendapat pertama, bahwa menyusui orang dewasa itu boleh dan sah berdasarkan hadits riwayat ‘Aisyah tentang penyusuan Saalim tersebut.
Pendapat kedua, bahwa menyusui orang dewasa itu tidak boleh dan tidak sah, berdasarkan :
a.  Sabda Rasulullah SAW, “Tidak menjadikan mahram suatu penyusuan, kecuali yang memberi bekas pada perut dan (adanya) pada waktu kecil dan sebelum disapih”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 311, no. 1162]
b.  Sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada penyusuan, kecuali yang terjadi dalam dua tahun”. [HR. Daruquthni juz 4, hal. 174, no. 10]
c.  Sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada penyusuan sesudah diputuskan (disapih)”. [HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam musnadnya juz 1, hal. 243, no. 1767]
d.  Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya penyusuan itu hanyalah yang dapat menghilangkan rasa lapar”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1078). Maksudnya, tidak dinamakan penyusuan melainkan apabila si anak itu lapar, maka susu ibu itu bisa mengenyangkannya.
e.  Firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 233 yang artinya "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan".
Dengan alasan-alasan tersebut, maka ulama golongan ini berpendapat bahwa penyusuan yang bisa menjadikan sebagai anak susu tersebut hanyalah penyusuan yang terjadi pada waktu anak itu masih kecil yaitu masih dalam masa penyusuan. Maka penyusuan yang telah lewat dari masa penyusuan itu tidak sah. Apalagi penyusuan terhadap orang dewasa, karena untuk menyusuinya itu sendiri perlu dilanggar satu larangan, yaitu membuka aurat perempuan kepada orang yang tidak halal dibukakan aurat kepadanya.
Adapun penyusuan kepada Saalim tersebut adalah khususiyah untuk Saalim saja tidak untuk yang lain.
Pendapat ketiga, bahwa menyusui orang dewasa itu pada dasarnya adalah tidak boleh dan tidak sah. Dalilnya sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat kedua. Namun apabila memang keadaannya seperti kasusnya Saalim tersebut, yaitu anak yang telah dipeliharanya sejak kecil dan berat untuk menyingkirkannya dari rumah itu, maka berdasarkan hadits tentang penyusuan Saalim tersebut, hal ini dibolehkan dan sah menjadi anak susu.
Demikianlah pendapat para ulama tentang menyusui orang dewasa, walloohu a'lam. وَ اللهُ اَعْلُمُ
Bersambung………


Demo Blog NJW V2 Updated at: 00:02

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Silahkan di Copy dan di Share kalau di rasa bermanfaat tidak perlu izin. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx