Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Kebolehan thalaq

Posted by


tauhid
Rasulullah SAW suri teladan yang baik (ke-89)
Tentang thalaq (1)
1. Kebolehan thalaq
Firman Allah SWT :
اَلطَّلاَقُ مَرَّتنِ، فَاِمْسَاكٌ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌ بِاِحْسَانٍ. البقرة:229
Thalaq (yang dapat dirujuki) itu dua kali, setelah itu boleh rujuk kembali dengan ma’ruf atau menthalaqnya dengan cara yang baik. [QS. Al-Baqarah : 229]
ياَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا طَلَّقْتُمُ النّسَآءَ فَطَلّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَ اَحْصُوا الْعِدَّةَ، وَ اتَّقُوا اللهَ رَبَّكُمْ، لاَ تُخْرِجُوْهُنَّ مِنْ بُيُوْتِهِنَّ وَلاَ يَخْرُجْنَ اِلآَّ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيّنَةٍ، وَ تِلْكَ حُدُوْدُ اللهِ، وَ مَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَه، لاَ تَدْرِيْ لَعَلَّ اللهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذلِكَ اَمْرًا(1) فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّ اَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مّنْكُمْ وَ اَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ للهِ، ذلِكُمْ يُوْعَظُ بِه مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ اْلاخِرِ، وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّه مَخْرَجًا(2). الطلاق:1-2
Hai Nabi, apabila kamu menthalaq istri-istrimu, maka hendaklah kamu thalaq pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu serta bertaqwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru. (1)
Apabila mereka telah mendekati akhir 'iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (2). [QS. Ath-Thalaaq : 1-2]
Hadits Nabi SAW :
عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص طَلَّقَ حَفْصَةَ، ثُمَّ رَاجَعَهَا. ابن ماجه 1: 650، رقم: 2016
Dari Umar bin Khaththab RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW pernah menthalaq Hafshah, kemudian merujukinya. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 650, no 2016].
عَنْ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص طَلَّقَ حَفْصَةَ ثُمَّ رَاجَعَهَا. ابو داود 2: 285، رقم: 2283
Dari 'Umar (bin Khaththab) bahwasanya Rasulullah SAW menthalaq Hafshah, kemudian merujukinya. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 285, no 2283]
عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ اْلجَنَّةِ. ابن ماجه 1: 662، رقم: 2055
Dari Tsauban, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Siapasaja wanita yang minta thalaq kepada suaminya bukan karena adanya sebab yang menyengsarakan, maka haram baginya bau surga”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 662, no. 2055].
عَنْ ثَوْبَانَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ. الترمذى 2: 484، رقم: 1187
Dari Tsauban, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Siapasaja wanita yang minta thalaq kepada suaminya bukan karena adanya sebab yang menyengsarakan, maka haram baginya bau surga”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 484, no. 1187].
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَبْغَضُ الْحَلاَلِ اِلَى اللهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ. ابو داود 2: 255، رقم: 2178
Dari Ibnu 'Umar, dari Nabi SAW, beiau bersabda, "Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah Ta'aala adalah thalaq". [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 255, no. 2178]
عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله ص: اَبْغَضُ اْلحَلاَلِ اِلَى اللهِ الطَّلاَقُ. ابن ماجه 1: 650، رقم: 2018
Dari 'Abdullah bin Ibnu Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah thalaq”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 650, no. 2018].
Keterangan :
Hadits riwayat Ibnu Majah ini dla'if karena dalam sanadnya ada perawi bernama 'Ubaidillah bin Walid, namun hadits yang diriwayatkan Abu Dawud di atas adalah hasan, sehingga kedua hadits ini saling menguatkan.
2. Larangan menthalaq istri diwaktu sedang haidl
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ، فَذَكَرَ ذلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِيّ ص، فَقَالَ: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لْيُطَلّقْهَا طَاهِرًا اَوْ حَامِلاً. مسلم 2: 1095
Dari Ibnu Umar, bahwasanya ia pernah menthalaq istrinya padahal ia sedang haidl. Kemudian hal itu disampaikan oleh Umar kepada Nabi SAW, lalu Nabi SAW bersabda, “Suruhlah dia untuk rujuk kembali. Kemudian hendaklah ia menthalaqnya dalam keadaan suci atau dalam keadaan hamil”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1095].
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ، فَذَكَرَ ذلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِيّ ص فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ص: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لْيُطَلّقْهَا اِذَا طَهُرَتْ اَوْ وَ هِيَ حَامِلٌ. ابو داود 2: 255، رقم: 2181
Dari Ibnu 'Umar, bahwasanya ia pernah menthalaq istrinya padahal istrinya sedang haid, lalu 'Umar (bin Khaththab) menceritakan hal itu kepada Nabi SAW, maka Rasulullah SAW bersabda, "Suruhlah ia merujukinya, kemudian hendaklah ia menthalaqnya ketika istrinya dalam keadaan suci atau ketika ia hamil". [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 255, no. 2181]
عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص، فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ ذلِكَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لْيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيْضَ ثُمَّ تَطْهُرَ. ثُمَّ اِنْ شَاءَ اَمْسَكَ بَعْدُ. وَ اِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ اَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ اْلعِدَّةُ الَّتِى اَمَرَ اللهُ اَنْ يُطَلَّقَ لَهَا النّسَاءُ. البخارى 6: 163
Dari 'Abdullah bin ‘Umar RA, bahwasanya pada masa Rasulullah SAW ia pernah menthalaq istrinya, pada hal istrinya dalam keadaan haidl. Kemudian ‘Umar bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal itu. Maka beliau bersabda, “Suruhlah ia merujukinya. Kemudian hendaklah ia menunggunya sehingga istrinya suci, kemudian haidl lagi, kemudian suci lagi. Kemudian jika ia mau boleh menahannya (tidak menthalaqnya), dan jika ia mau, ia boleh menthalaqnya sebelum mencampurinya. Maka itulah ‘iddah yang Allah perintahkan supaya wanita dithalaq dalam keadaan itu”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 163]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص، فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ ذلِكَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لْيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ اِنْ شَاءَ اَمْسَكَ بَعْدَ ذلِكَ، وَ اِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ اَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِيْ اَمَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ اَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النّسَاءُ. ابو داود 2: 255، رقم: 2179
Dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwasanya pada masa Rasulullah SAW ia pernah menthalaq istrinya padahal istrinya sedang haidl, lalu 'Umar bin Khaththab bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal itu. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Suruhlah ia merujukinya. Kemudian hendaklah ia menunggu hingga istrinya suci, kemudian haidl, kemudian suci. Kemudian sesudah itu jika ia mau boleh menahannya (tidak menthalaqnya), dan jika ia mau, boleh ia menthalaq sebelum mencampurinya. Maka itulah 'iddah yang diperintahkan Allah SWT agar wanita dithalaq dalam keadaan itu". [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 255, no. 2179]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: طَلَّقْتُ امْرَأَتِي وَهِيَ حَائِضٌ. فَذَكَرَ ذلِكَ عُمَرُ لِرَسُوْلِ اللهِ ص، فَقَالَ: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا حَتَّى تَطْهُرَ تُمَّ تَحِيْضَ ثُمَّ تَطْهُرَ ثُمَّ اِنْ شَاءَ طَلَّقَهَا قَبْلَ اَنْ يُجَامِعَهَا. وَ اِنْ شَاءَ اَمْسَكَهَا. فَاِنَّهَا الْعِدَّةُ الَّتِي اَمَرَ اللهُ. ابن ماجه 1: 651، ررقم: 2019
Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Aku pernah menthalaq istriku padahal ia sedang haidl, lalu 'Umar (bin Khaththab) menceritakan hal itu kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Suruhlah ia merujukinya sehingga istrinya suci, kemudian haidl, kemudian suci. Kemudian jika mau, ia boleh menthalaqnya sebelum mengumpulinya. Dan jika ia mau, boleh menahannya (tidak menthalaqnya). Karena seperti itulah 'iddah yang Allah perintahkan". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 651, no. 2019]
عَنْ ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص، فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ ذلِكَ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لْيَتْرُكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ، ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ اِنْ شَاءَ اَمْسَكَ بَعْدُ، وَ اِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ اَنْ يَمَسَّ. فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي اَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ اَنْ يُطَلَّقَ لَهَا النّسَاءُ. مسلم 2: 1093
Dari Ibnu 'Umar, bahwasanya pada masa Rasulullah ia pernah menthalaq istrinya padahal sedang haidl. Maka 'Umar bin Khaththab bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal itu. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Suruhlah ia merujukinya. Kemudian hendaklah menunggu sehingga istrinya suci, kemudian haidl, kemudian suci. Kemudian setelah itu jika ia mau boleh menahannya (tidak menthalaqnya). Dan jika ia mau, boleh menthalaqnya sebelum mencampurinya. Maka itulah 'iddah yang Allah 'Azza wa Jalla perintahkan agar wanita dithalaq dalam keadaan itu". [HR. Muslim juz 2, hal. 1093]
عَنْ عَبْدِ اللهِ اَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَ هِيَ حَائِضٌ تَطْلِيْقَةً. فَانْطَلَقَ عُمَرُ فَاَخْبَرَ رَسُوْلَ اللهِ ص بِذلِكَ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: مُرْ عَبْدَ اللهِ، فَلْيُرَاجِعْهَا. فَاِذَا اغْتَسَلَتْ فَلْيَتْرُكْهَا حَتَّى تَحِيْضَ. فَاِذَا اغْتَسَلَتْ مِنْ حَيْضَتِهَا اْلاُخْرَى فَلاَ يَمَسَّهَا حَتَّى يُطَلّقَهَا، وَ اِنْ شَاءَ اَنْ يُمْسِكَهَا فَلْيُمْسِكْهَا، فَاِنَّهَا اْلعِدَّةُ الَّتِى اَمَرَ اللهُ اَنْ يُطَلَّقَ لَهَا النّسَاءُ. الدارقطنى 4: 7، رقم: 15
Dari 'Abdullah (bin ‘Umar) bahwasanya ia menthalaq istrinya dengan thalaq satu, pada hal istrinya dalam keadaan haidl. Lalu ‘Umar pergi memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, “Suruhlah Abdullah agar ia merujukinya kembali. Lalu apabila istrinya telah mandi (suci) maka hendaklah ia tidak mencampurinya sehingga istrinya haidl (lagi). Kemudian apabila ia telah mandi (suci) dari haidlnya yang kedua, maka janganlah ia mencampurinya hingga ia menthalaqnya, atau jika ia ingin menahannya maka hendaklah ia menahannya. Karena itulah ‘iddah yang diperintahkan Allah agar wanita dithalaq dalam keadaan itu”. [HR. Daruquthni juz 4, hal. 7, no. 15].
عَنْ عِكْرِمَةَ يُحَدّثُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَقُوْلُ: الطَّلاَقُ عَلَى اَرْبَعَةِ وُجُوْهٍ. وَجْهَانِ حَلاَلٌ وَوَجْهَانِ حَرَامٌ. فَاَمَّا الْحَلاَلُ فَاَنْ يُطَلّقَهَا طَاهِرًا عَنْ غَيْرِ جِمَاعٍ، وَ اَنْ يُطَلّقَهَا حَامِلاً مُسْتَبِيْنًا. وَ اَمَّا الْحَرَامُ فَاَنْ يُطَلّقَهَا وَ هِىَ حَائِضٌ اَوْ يُطَلّقَهَا حِيْنَ يُجَامِعُهَا لاَ يَدْرِى اشْتَمَلَ الرَّحِمُ عَلَى وَلَدٍ اَمْ لاَ. الدارقطنى 4: 5، رقم: 3
Dari ‘Ikrimah, ia menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Thalaq itu ada empat macam. Dua macam halal dan yang dua macam lagi haram. Adapun dua macam yang halal, ialah seseorang menthalaq istrinya dalam keadaan suci yang belum dicampuri atau ia menthalaqnya dalam keadaan hamil yang sudah jelas kehamilannya. Adapun dua macam yang haram, ialah seseorang menthalaq istrinya dalam keadaan haidl atau menthalaqnya dalam keadaan suci tetapi telah dicampuri, sedang ia tidak tahu apakah istrinya itu hamil atau tidak”. [HR. Daruquthni juz 4, hal. 5, no 3].
Keterangan :
Dari hadits-hadits di atas bisa dipahami bahwa :
1.  Apabila suami menthalaq istrinya, hendaklah dilakukannya diwaktu istri dalam keadaan suci dari haidl dan belum dikumpuli lagi, atau istri dalam keadaan hamil. Itulah yang disebut thalaq secara sunnah. Dan suami dilarang menthalaq istrinya diwaktu ia sedang haidl. Namun apabila terjadi seorang suami menthalaq istrinya dalam keadaan haidl, thalaq tersebut tetap sah, hanya saja tidak sesuai dengan tuntunan sebagaimana yang Allah perintahkan dalam QS. Ath-Thalaaq : 1, dan itulah yang disebut thalaq bid'iy.
2.  Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh Ibnu ‘Umar supaya menunggu dua kali suci, lalu kalau ia akan menthalaqnya boleh ia lakukan atau kalau mau menahannya (tidak menthalaqnya), ia boleh melakukannya, maka bisa dipahami bahwa menunggu dua kali suci itu hanya keutamaan saja, bukan wajib. Dan bisa juga Nabi SAW memberi waktu yang lebih longgar kepada Ibnu ‘Umar supaya berpikir, apakah tetap akan menthalaqnya ataukah tidak jadi menthalaqnya.
Walloohu a'lam.
Bersambung………


Demo Blog NJW V2 Updated at: 00:05

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Pertanyaan OOT silakan di Halaman Ruang Konsultasi. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx